Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 April 2010

Wirid Penantian




Hujan rindu yang senantiasa turun ini, memenuhi gelas2 kegelisahan. Dan terus turun hingga sesuir jiwa ini lelah menacri tempayan2 untuk menadahnya. Lika-liku kebisuan terus membelenggu menunggu sebuah waktu pada pertemuan. Dimana hujan akan berhenti dan air-air kegelisahan tumpah pada muara pengobatan dan penyembuhan.

Pada sebuah hati, janji ini menempel bak benalu. Pada sebuah jiwa, rasa ini menikam bak duri beracun menyebar ke denyut2 nadi. Membuat sang emosi kian menjadi. Dan, pada sebuah waktu, penantian ini mematung. Begitu mengiris membuat luka2 kerinduan.


Samudra yang membelah gundukan2 tanah, melebar membuat jarak hingg Sang Purnama terlalu jauh tuk di tatap. Badai ombak dan karang tetap kokoh menjadi sebuah penghalang yang tak ada kata tamat.

Angin, jangan kau tertawa! Hiburlah aku yang terus menata bata-bata harapan. Yang terus merangkai besi jembatan untuk menghubungkan pada Sang Rembulan.

Dingin, jangan kau terus buatku menggigil! Diri ini tlah terlanjur hanyut. Racun ini telah begitu menyebar. Temani aku dalam kebisuan. Kawani aku dalam penantian panjang.

Biar kudekap belati2 ini. Biarkan darahku menetes mengaliri selokan2. Dan angin, bawalah anyir cinta ini ke seluruh sudut2 dunia. Hembuskanlah pada kelopak2 bunga di taman2 para pecinta. Teriakkan nyanyian setia, meski Sang Rembulan kian merangsek dan terus curiga. Aku, kan tetap mematung dengan setia.

Rabu, 22 Juli 2009

Sastra Melayu Klasik

Sejarah Sastra Melayu klasik berawal pada abad 16 masehi. Sejak itu gaya bahasa yang digunakan tidak banyak mengalami perubahan. Dokumen pertama yang dikenali menggunakan bahasa melayu adalah surat dari Raja Ternate,
Ket: Kedaton Ternate
Sultan Abu Hayat kepada seorang raja di Portugal yang bernama raja Joao III yang bertanggalkan tahun 1521 Masehi.
Ket: Raja Joao III Portugal

Saat ini tercatat terdapat tujuh bentuk dari sastra melayu. Gurindam, Hikayat, Karmina, Pantun, Syair, Seloka dan Talibun.

Gurindam

Gurindam adalah bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua larik (baris), mempunyai irama akhir yang sama dan merupakan satu kesatuan yang utuh. Larik atau baris pertama berisikan semacam soal atau perjanjian, sedangkan bait kedua adalah jawaban soal atau akibat dari perjanjian tersebut. Di kenal juga Gurindam dua belas yang di tulis oleh Raja Ali Haji dai Kepulauan Riau. Berikut ini contoh gurindam

Pabila banyak mencela orang
Itulah tanda dirinya kurang


Dengan ibu hendaknya hormat
Supaya badan dapat selamat

Untuk Gurindam dua belas, silahkan klik disini

Hikayat

Hikayat berasal dari bahasa Arab hikayah yang berarti kisah, cerita, atau dongeng. Pengertian mengenai hikayat ini bisa ditelusuri dalam tradisi sastra Arab dan Melayu lama. Dalam sastra Melayu lama, hikayat diartikan sebagai cerita rekaan berbentuk prosa panjang berbahasa Melayu, yang menceritakan tentang kehebatan dan kepahlawanan orang ternama dengan segala kesaktian, keanehan dan karomah yang mereka miliki.

Pantun

Pantun merupakan sejenis puisi yang terdiri atas 4 baris bersajak a-b-a-b atau a-a-a-a. Dua baris pertama merupakan sampiran, yang umumnya tentang alam (flora dan fauna); dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.
Contoh Pantun:
Wahai ananda cahaya mata
Orang berpantun jangan dikata
Didalamnya ada intan permata
Jikalau faham jadi mahkota


Karmina

Karmina sebuah bentuk pantun yang terdiri dari dua baris; baris pertama sampiran dan baris kedua isinya. Karmina disebut juga pantun kilat; mirip gurindam.

Contoh :
Gendang gendut tali kecapi
Kenyang perut senanglah hati
Pinggan tak retak, nasi tak dingin
Tuan tak hendak, kami tak ingin

Ciri-ciri :
1. 2 baris per bait
2. sajak a a
3. 4-5 kata atau 8-12 suku kata per baris/larik


Syair

Syair ialah jenis puisi melayu lama yang berangkap dan setiap rangkapnya mengandung 4 baris ayat yang kesemuanya membawa makna isi dan maksud. Keempat-empat baris itu pula berirama sama.
Syair sering membawa makna isi yang berhubung dengan kias ibarat. Sindiran , nasihat, pengajaran, agama dan juga berasakan sejarah atau dongeng.


Seloka

Seloka merupakan bentuk puisi Melayu Klasik, berisikan pepetah maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, terkadang dapat juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris.

contoh seloka 4 baris:

anak pak dolah makan lepat,

makan lepat sambil melompat,

nak hantar kad raya dah tak sempat,

pakai sms pun ok wat ?


contoh seloka lebih dari 4 baris:
Baik budi emak si Randang
Dagang lalu ditanakkan
Tiada berkayu rumah diruntuhkan
Anak pulang kelaparan
Anak dipangku diletakkan
Kera dihutan disusui


Talibun


Talibun ialah puisi berangkap tentang perincian sesuatu objek atau peristiwa, dan umumnya terdapat dalam genre lipur lara.

Sejenis puisi Melayu berbentuk bebas (ikatan puisi bebas)

Digunakan sebagai sisipan / selingan dalam cerita lipur lara


Dari:
Wikipedia Online
Melayu Online

Sabtu, 18 Juli 2009

Kebenaran, Kebatilan dan Persaudaraan dalam cerpen ”Satria Kurusetra” karya Sakti Wibowo

Oleh: Van Prey

Banyak yang menganggap bahwa khayalan sesungguhnya tidak berguna. Orang mengkhayal ketika akan beranjak tidur atau ketika mereka suntuk dan bosan dengan kegiatan di sekelilingnya. Tapi, di tangan sastrawan khayalan menjadi sebuah permata tersendiri. Mereka mampu mengolah sebuah khayalan menjadi sebuah dunia yang bersandingan dengan dunia nyata, dunia realitas. Memang, terkadang (bahkan sering) khayalan tidak masuk akal. Kadang ingin kembali ke masa lalu dengan memutar waktu atau ingin memutar bumi lebih cepat hingga sampai ke masa depan.
Adalah Satria Kurusetra, sebuah cerpen karangan Sakti Wibowo yang membawa kita berlayar menuju masa lalu. Dengan gaya penulisan yang mampu memikat pembaca, dia berusaha menampilkan rangkaian kata puitis dan tak lazim digunakan dalam bahasa sehari-hari.
“Lelaki itu menatap ke seantero luas padang bernanah. Dadanya mengepundan, tak kuasa lagi menahan sengalan berbaur perih yang menyayat-nyayat”
Paragraf pertama Sakti mampu membuat pembaca untuk terus mengikuti jalan cerita selanjutnya. Sakti mampu menanamkan rasa penasaran melalui rangkaian kata yang ia ciptakan. Cerita dengan latar Bharata Yudha (Pewayangan) ini, pada bagian awal menampilkan tokoh Arjuna yang gelisah, bingung dan bimbang akan pertumpahan darah yang terus terjadi. Di bagian ini, Sakti “menahan” ceritanya dengan memainkan alur yang menarik, jadi “memaksa” pembaca untuk tetap mengamati rangkaian huruf sambil membaca mengkuti jalan cerita. Segala kebimbangan, kegelisahan dan kebingungan yang menyelimuti Arjuna, ia tumpahkan dalam pengaduannya kepada Dzat yang memiliki dan memelihara alam semesta. Di bawah ini kutipan tentang bagaimana gelisah, bimbang dan bingungnya tokoh Arjuna:
“Masih berapa lagi darah yang harus membasah di padang ini Tuhan?”
Lalu monolog dari Arjuna selanjutnya:
”Tidak...aku bukanlah ksatria sejati sebagaimana kata orang-orang. Melainkan hanya segumpal daging kerdil, tak kuasa berdiri oleh tiupan angin beliung yang mementahkan segala rasa. O, bahkan oleh pertalian darah yang terhapus dalam kemelut yang bercabang-cabang”
Asal-muasal segala permasalahan mulai di tampilkan oleh Sakti Wibowo meskipun masih samar-samar. Gaya penulisan Sakti juga tak berubah. Tetap menggunakan rangkaian kata yang tak lazim dalam bahasa Indonesia sehari-hari. Ia juga mengkombinasikan dengan bahasa Pewayangan (Jawa) yang menampilkan pribadi Sakti sebagai pengarang cerita yang berasal dari Jawa. Sebuah ciri khas tersendiri. Namun, dalam pengkombinasi-an kalimat ini sebenarnya akan membingungkan pembaca. Bagi pembaca yang bukan orang Jawa, tentunya mereka akan kesulitan untuk memahami. Mereka akan menggaruk kepala karena kebingungan dengan kalimatnya. Tapi pelengkap atau penjelas bahasa berada pada akhir cerita sehingga pembaca bisa memahami meski agak repot harus membolak-balik lembaran teks. Berikut kutipan dialog antara Arjuna dan kakaknya, Basukarna, yang mengombinasikan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa:
”Mendekatlah Yayi....’kan kutimang sebelum palagan beradu sedan. Kita menanti detik yang luruh satu per satu dalam putaran waktu. Harum melati bidadari khayangan saat menabur jisim-mu perlaya. Sebagai puncak darma kita menuju kehidupan yang baka. Sungguh akan Kakang ceritakan tentang tangan yang menggeletar, kala sesama di larutkan cinta pada pembelaan dharma setia bawa-laksana. Seperti tirisnya biduk ringkih dilabuh di Begawan Yamuna. Kau akan berkata segalanya benar-benar tak terpilih. Kendati begitu bagi nahkoda tak ada laku lebih sesanti selain menempati lautnya............”
Saat hidup menjadi pilihan, maka harus diperjuangkan ketika telah memilih sebuah pilihan dalam menjalani jalan hidup. Kebenaran dan kebatilan yang melibatkan saudara sekandung, menjadikan segalanya berubah menjadi pilihan yang penuh dengan pertimbangan. Dan terkadang, kebenaran pun semakin samar-samar. Tingkah nepotisme yang dilakukan para orang-orang penting yang menduduki jabatan strategis di negara ini, seringkali membuat kebenaran menjadi samar-samar. Dan kebenaran semakin jauh untuk dapat dilihat.
Arjuna sebagai tokoh Protagonis (baik) harus melawan kakak kandungnya sendiri, Basukarna, yang menjadi tokoh Antagonis (jahat). Arjuna, panglima perang dari negeri Amarta yang puncak pimpinan dipegang oleh Kresna, dan Basukarna panglima perang dari negeri Astinapura yang dipimpin oleh Duryudana.
Arjuna tetap saja bingung dan berusaha mencari jalan keluar dengan meminta pertimbangan dari orang dekatnya, yakni ibunya. Ibunya hanya mampu memberi kata penjelas, namun tidak memberi jawaban atas pertanyaan Arjuna. Arjuna berada dalam keadaan dilematis dimana ia harus memilih salah satu yang tak terpilih. Berikut kutipan dialognya:
”Jika saya boleh memilih, Ibu?”
Wanita dihadapannya itu memintal tangisnya.
”Dia kakangmu, kendati kalian berlainan ayah.”
Dilematisasi yang melanda Arjuna, sang panglima perang dari Amarta, tentunya juga akan berpengaruh terhadap ideologi negara dan juga berpengaruh kondisi psikologis para prajuritnya. Seorang pemimpin harus bisa memberi keputusan tegas terhadap bawahannya yang sedang di landa kebimbangan. Kresna kemudian memberikan alasan kenapa Arjuna harus tetap berdiri membentengi negeri Amarta, yang menjunjung nilai-nilai kebenaran. Berikut kutipan perkataan dari Kresna:
”Tapi ia memihak kepada kekufuran, Kunthi. Basukarna menjadi senapati Astinapura. Kita tahu kezaliman yang telah dilakukan Negeri itu. Prabu Duryudana menyebarkan angkara, menginjak-injak hukum Tuhan. Bahkan lebih dari itu mentahbiskan diri sebagai Tuhan.”
Rasa berat ketika harus berhadapan langsung dengan saudara kandung di medan pertempuran masih menggelayuti hati Arjuna. Dia belum mampu menerima seutuhnya secara lapang dada. Namun, nasehat demi nasehat terus menerus di berikan oleh Prabu Kresna kepada Arjuna.
”Aku paham tentang kegalauanmu. Tapi pahamilah bahwa ini strategi Astinapura untuk melemahkanmu. Melemahkan Amarta, karena semenjak pengangkatanmu menjadi senapati alaga, tak ada perwira mumpuni Astina yang mampu berbuat banyak. Mereka kocar-kacir dan menelan kekalahan dari hari ke hari. Senapati satu per satu terjungkal perlaya di Kurusetra. Menghentikanmu hanya dengan Basukarna, sebab dia kakakmu. Sadarilah itu.”
Berbagai nasehat yang diberikan oleh Kresna kepada Arjuna, belum mampu meneguhkan hati Arjuna. Ia tetap saja bingung. Dan bahkan, dalam keadaan yang bingung tersebut, ia memutuskan untuk mengalah. Sepertinya kebenaran yang dipegang oleh negara Amarta tak mampu dijaga oleh Arjuna dikarenakan harus berhadapan langsung dengan saudara kandungnya sendiri. Meski Arjuna mencoba merasionalisasikan Basukarna dan Basukarna mengakui bahwa apa yang dilakukannya salah, namun Basukarna tetap berdiri membela Astinapura. Hal tersebut diakibatkan karena ketika Basukarna masih bayi dan kelahirannya tidak diinginkan oleh Ibundanya, Kunthi, ia ditolong oleh Duryudana, Raja Astinapura dan merawatnya hingga tumbuh menjadi seorang ksatria yang patut diandalkan serta jabatan yang strategis. Alasan dari Basukarna adalah balas budi. Dan menurutnya, hanya inilah yang mampu ia lakukan untuk membalas kebaikan Duryudana. Berikut kutipannya:
”Aduhai Kakanda...tidakkah sebaiknya kita tak berhadapan saja?”
Lelaki taruna itu tersenyum masygul. ”Mendekatlah, yayi...”
.................................
”Segalanya memang tak terpilih. Pun andaikan Kakang harus menunda menerima tampuk panglima. Hanya menunda waktu saat kita berhadapan di medan laga. Terkecuali mundur dari tugas itu. Sungguhlah itu tak mungkin, yayi...”
”Kenapa?”
Cerita selanjutnya adalah percakapan Arjuna dan Basukarna tentang asal-muasal kenapa Basukarna harus tetap membela Astinapura dan rasionalisasi Arjuna.
..........”Aku mengerti Amarta dipihak yang benar, karena mengusung nilai-nilai Illahi. Namun mengertilah bahwa Kakang tidak bisa ingkar telah banyak berhutang budi terhadap Prabu Duryudana. Saat Kakang harus mengecap derita dibuang ibunda Kunthi, Prabu Duryudana memungut Kakang dari kubangan dan membesarkan. Dia pula yang mengangkat Kakang dari sekedar gembel menjadi seorang punggawa istana. Kedudukan yang sebelumnya mimpi pun tak sanggup...”
”Tapi Kakang...bukankah Musa juga berhutang nyawa kepada Fir’aun? Namun itu tak menghalanginya untuk memerangi Fir’aun saat dia menolak menerima Tuhan.”
Proses merasionalisasikan Basukarna oleh Arjuna rupanya tidak mempan. Basukarna tetap bersikeras terhadap apa yang ia yakini. Dan ia memutuskan untuk tetap berperang melawan Amarta yang berarti juga melawan adik kandungnya sendiri. Tapi sesungguhnya, keras kepala Basukarna tidak seperti apa yang dibayangkan oleh Arjuna. Basukarna sebenarnya sudah sadar dengan apa yang diucap oleh Arjuna. Namun, demi harga diri sebagai seorang panglima perang, ia tetap bersikeras untuk melawan Amarta. Basukarna memiliki rencana sendiri yang telah ia siapkan dalam benak hatinya jika nanti menghadapi Arjuna di medan laga.
Di padang Kurusetra, tempat medan pertempuran berlangsung, Arjuna tak mampu melawan kakak kandungnya tersebut. Ia malah menyuruh Basukarna untuk membunuh dirinya. Ia tak sanggup. Ikatan saudara sekandung terlalu kuat tertanam dalam hati Arjuna. Tapi, sepertinya Basukarna telah mengetahui sifat adiknya. Ia memberikan kata-kata yang sanggup membuat hati Arjuna luluh oleh kebingungan dan memaksa emosi Arjuna meluap. Basukarna menghina Arjuna di tengah medan pertempuran sehingga membuat Arjuna terbakar. Basukarna memaksa Arjuna dengan kata-kata yang bernada menghina agar Arjuna mau bertarung. Dan saat emosi Arjuna meluap sehingga menyerang Basukarna, Basukarna hanya diam tak melawan. Ia sadar sepenuhnya bahwa dirinya salah. Namun demi harga diri, ia korbankan nyawanya agar negeri Amarta yang membawa nilai-nilai kebenaran tidak terlalu banyak jatuh korban. Balas budinya kepada Duryudana adalah dengan tetap berdiri mendukungnya dan pengorbanannya untuk tetap meloloskan kebenaran agar tetap tegak, ia persembahkan nyawanya di tangan adik kandungnya sendiri, panglima perang yang mengusung nilai-nilai kebenaran.
Berikut kutipannya:
Arjuna mementang gandewanya dengan rasa menyerpih-nyerpih. Di ujung lain Basukarna mematung dengan tatap sayu membiru.
.................................
”Aku tak mampu Kakang....”
Nun jauh diujung, Basukarna tertawa membahana. ”Haa...haa.... inikah senapati Amarta? Lelaki banci yang membawa duka cita dalam menuntaskan darma setia? O, Arjuna...dimana perwiramu?”
”Bunuh saja aku Kakang. Labih mudah rasanya,”
................................
”Bunuh saja aku, Kakang...”
................................ ”O, sebaiknya kau memakai kebaya saja, Arjuna. Malu rasanya Kakang berhadapan dengan lelaki banci hari ini. Tak kan kulupakan hinaan jika membunuhmu tanpa perlawanan.”
Hinaan yang dilontarkan oleh Basukarna mampu memancing Arjuna untuk berperang.
Gerigis amarah itu. Tiba-tiba Arjuna mementang gandewa, seribu luka menguasai dirinya. Peperangan harus berakhir, atau semakin banyak rakyat tak berdosa menumpuk jasad di Kurusetra. Batang panah melaju, membelah deru angin yang mengesiur perlahan.
Basukarna tersenyum wibawa. Ditantangnya mata runcing itu dengan dadanya yang membusung.......
..............................
”Kau bisa melakukannya, Dinda.....”. Sungging senyumnya dalam rengkuhan keikhlasan. ”Segalanya memang tak terpilih”
Arjuna memburu dengan lelehan air mata. ”Kakang.......”
Ia menubruk tubuh yang gontai itu. Menghujaninya dengan air mata yang membanjir.
”Kenapa kau diam saja, Kakang.....?
Bagai memakan buah simalakama. Pepatah itu yang patut ditujukan kepada Arjuna. Namun, rupanya pepetah itu lebih lagi patut ditujukan oleh Basukarna. Pengorbanannya, tak seorang pun tahu bahwa dia memilih membela kebenaran dan menggadaikan nyawanya ditangan adiknya sendiri, Arjuna.

Sastra Peranakan Tionghoa: Sastra Yang Tercecer

Oleh : Van Prey

(bagian I)

Perkembangan suatu bangsa dari waktu ke waktu pasti mengalami perubahan. Entah perubahan ke arah yang lebih maju atau sebaliknya dan bahkan ada juga yang stagnan. Rekaman sebuah perkembangan suatu bangsa, selain dapat dilihat melalui kaca mata sejarah dapat pula di lirik dari kesusateraan bangsa yang bersangkutan.
Perjalanan kesusateraan Indonesia dari klasik hingga modern adalah sebuah perjalanan bangsa Indonesia. Hal itu dikarenakan sastra tidaklah lahir dari sebuah kekosongan budaya. Ia ada akibat pengaruh kondisi dan situasi sosial, budaya, ekonomi, politik, agama bahkan juga ideologi yang berkembang dalam masyarakat yang berdiam di dalam bangsa Indonesia sendiri. Oleh karena itu, ada sebuah studi dalam ilmu sastra yakni sosiologi sastra yang digunakan oleh para ahli untuk melihat kondisi masyarakat ketika karya sastra tersebut dibuat. Selain sastra tidak lahir dari sebuah kekosongan, keberadaannya juga sebagian dari cermin tingkah dan pola laku masyarakat.
Rene Wellek menuliskan bahwa ilmu sastra dipecah atas tiga pilar, yaitu teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra ( Pradopo, 2008:1). Ketiganya saling berjalin-kelindan dan tidak bisa ditinggalkan satu dengan yang lainnya. Ketiga pilar itu adalah sebuah hirarki yang harus dipelajari secara runtut. Teori sastra sangat erat hubungannya dengan kritik sastra karena kritik sastra membutuhkan sebuah teori sebagai sandarannya. Sejarah sastra juga berkaitan dengan kritik sastra, dimana ketika melakukan penilaian pada sebuah karya sastra, tentu adalah lebih sempurna jika menganalisa secara intertekstual. Maksudnya adalah apakah karya yang bersangkutan, jiplakan atau transformasi dari karya sebelumnya. Juga apakah bentuk, ide dan gagasan karya sastra tersebut, sama atau berbeda dengan karya sastra sebelumnya.
Dalam perjalanannya, kesusateraan Indonesia modern oleh Nugroho Notosusanto, di awali ketika lahirnya nasionalitas Indonesia secara resmi. Sebab sesudah itu, karya cipta sastra sudah bersifat nasional Indonesia, bukan cipta daerah lagi (Pradopo, 2008:6). Berdirinya organisasi pergerakan kebangsaan Indonesia yakni Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908, secara resmi diakui nasionalitas Indonesia. Namun demikian nyatanya pada tanggal tersebut belum ada karya sastra (modern) yang bersifat nasional Indonesia (Pradopo, 2008:7). Antara tahun 1908 hingga 1920, terdapat dua buah karya sastra yang menggunakan bahasa nasional yakni bahasa Indonesia meskipun secara resmi bahasa Indonesia diakui pada tanggal 28 Oktober 1928. Teeuw mencatat dua buah karya tersebut ialah roman karya Mas Marco Kartodikromo yang berjudul Student Hidjo terbit pada 1919 dan Hikayat Kadiroen karya Semaun yang terbit pada tahun 1920 (Teeuw; 1978:35,33 via Pradopo, 2008:7). Pasca dari itu, karya-karya sastra didominasi oleh sastrawan Balai Pustaka yang diawali dengan roman Azab dan Sengsara oleh Merari Siregar pada tahun 1921 (Pradopo, 2008:7).
Jauh sebelum itu sebenarnya terdapat karya sastra yang sudah agak modern yakni karya-karya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi yaitu Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah atau Hikayat Abdullah. Penyebutan nama penulis, pengangkatan masalah sosial kemasyarakatan, penyebutan angka tahun dan cara deskripsi menyerupai bentuk otobiografi, telah menempatkan karya itu sebagai karya yang sudah memperlihatkan ciri-ciri karya modern. H.B Jassin menempatkan karya-karya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi sebagai karya masa transisi yaitu karya yang menghubungkan kesusateraan Indonesia lama ke kesusateraan Indonesia modern. (Maman Mahayana, 2007:4).

bagian II silahkan klik disini

Sastra Peranakan Tionghoa: Sastra Yang Tercecer

Oleh : Van Prey

(bagian II)

Wacana Kontroversi

Kesusateraan sesungguhnya adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah dinamika perjalan bangsa. Kesusateraan lahir dan tumbuh serta bergerak mengikuti dinamika yang terjadi dalam masyarakat. Proses meng-ada-nya sastra juga tidak semudah seperti yang dibayangkan. Telah dijelaskan diatas bahwa sastra tidak lahir begitu saja. Tapi kondisi sosial, budaya, politik, ekonomi, agama dan bahkan ideologi juga memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap penciptaan karya sastra. Percikan konflik pemikiran dan badai perbedaan pendapat saling tertuang dalam karya sastra setelah melalui proses pergulatan yang sengit dalam diri sastrawan dalam kontemplasi yang tidak lama. Kontemplasi pun juga belum cukup karena masih ada berbagai hal yang ingin dicipta oleh sastrawan yakni ide baru, gagasan yang inovatif, dan bentuk yang revolusioner dalam karyanya. Sehingga lahirnya karya sastra adalah tidak sesederhana yang dibayangkan. Dia begitu rumit dan memuat berbagai masalah begitu kompleks. Adalah suatu hal yang tak elok jika membuat sekat atau garis pembatas tegas antara Kesusateraan Indonesia lama (tradisional) dan Kesusateraan Indonesia Baru (modern). Pembagian dua wilayah ini seolah-olah seperti membagi sesuatu dalam sebuah wilayah menurut letak geografisnya. Seolah-olah pergerakan kesusateraan Indonesia tidak jauh berbeda dengan gerakan politik yang garis kebijakan politik dalam sebuah pemerintahan dapat ditentukan berdasarkan penggantian kekuasaan atau kepemimpinan pemerintahan (Maman Mahayana, 2007:4).
Hubungan antara sastra dan masyarakat tidak jarang memiliki pengaruh timbal balik. Sebuah problema baru dalam masyarakat yang mana masih dianggap asing, diungkap dalam sebuah karya sastra. Saat karya tersebut diterbitkan dan kemudian dikonsumsi oleh khalayak, tak urung pasti terdapat berbagai penilaian yang berbeda. Ada masyarakat yang setuju dan tidak setuju terhadap karya sastra tersebut. Perbincangan, dialog tak langsung, adu argumen dalam teks karya yang berlainan tahun adalah sesuatu hal yang lumrah namun tidaklah sederhana. Persoalan itu begitu rumit dan problematik.
Lalu, bagaimana mungkin kesusateraan yang meng-ada melalui proses yang rumit itu secara gampang dibuat sebuah garis tegas pembatas antara kesusateraan Indonesia lama (tradisional) dan kesusateraan Indonesia baru (modern)?.
Cara pandang yang menganggap bahwa sesuatu hal yang tradisional itu adalah hal yang kuno, rongsokan, kusam dan terbelakang menjadikan karya sastra Indonesia lama (tradisional) di marjinalkan. Dipinggirkan dan dilupakan. Sedangkan yang baru (modern) di anggap terhormat, bermartabat, revolusioner dan dengan segala macam rupa kelebihannya. Inilah sebuah cara pandang yang menyimpang dan menyesatkan sehingga menganggap sesuatu hal yang tradisional itu selayaknya harus cepat-cepat dikubur sedalam-dalamnya. Dibuang, diasingkan dan tak patut untuk tetap dipertahankan. Padahal, keberadaan kesusateraan modern tentu sangat berkaitan erat dengan kesusateraan tradisional. Tak mungkin ada kesusateraan modern jika tak pernah ada kesusateraan tradisional.
Keberadaan biro penerbit Balai Pustaka—yang saat itu Belanda masih menduduki Indonesia—memiliki pengaruh yang sangat penting dalam sejarah kesusasteraan Indonesia. Berawal dari roman Azab dan Sengsara, Salah Asuhan, Layar Terkembang, Belenggu dan lainnya terus bergulir. Namun rupanya pengaruh kekuasan kolonial Belanda turut menentukan alur perjalanan sejarah kesusateraan Indonesia.
Jika dikatakan, Sejarah selalu berpihak pada penguasa, maka itulah yang terjadi dalam kesusateraan Indonesia. Riwayat perjalanannya penuh dengan pemanipulasian, perekayasaan, penenggelaman, dan penyesatan. Tetapi lantaran sejarah milik penguasa, bahkan penguasa itu juga sengaja menciptakan sejarahnya sendiri, maka yang kemudian bergulir adalah sebuah mainstream yang menyimpan kepentingan politik penguasa dengan berbagai rekayasanya (Maman Mahayana, 2007:93). Yang terjadi kemudian adalah riwayat sastra Indonesia berpusat pada Balai Pustaka. Sastra terbitan Balai Pustaka dianggap sebagai yang berwibawa dan terhormat. Bahasa Balai Pustaka menjadi ikon kebudayaan elite sebagai bahasa golongan yang paling tinggi budayanya. Bacaan diluar Balai Pustaka dianggap sebagai bacaan liar, picisan, bahasa pasar, dan marjinal. Karena itu, para sastrawan beserta karyanya di luar Balai Pustaka saat itu tidak dikenal dan lenyap bersama ambisi tamak kaum kolonialis.

Politik Kolonial Balai Pustaka Menodai Sejarah Kesusasteraan Indonesia

Komisi Untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat ( Commissie voor Indlandsche School en Volkslectuur) yang berdiri pada tahun 1908, digantikan Balai Pustaka atau Kantor Bacaan Rakyat ( Kantoor voor de Volkslectuur) pada 22 September 1917 (Maman Mahayana, 2007:108). Sesungguhnya hal tersebut dilakukan sebagai bagian dari realisasi politik etis kaum kolonialis. Pendirian Balai Pustaka sejatinya memiliki tujuan terselubung yang bermuatan kepentingan politik.
Sutan Takdir Alisjahbana (STA) yang pernah menjadi redaktur Balai Pustaka menuliskan :
Balai pustaka didirikan untuk memberi bacaan kepada orang-orang yang sudah pandai membaca, yang tamat sekolah rendah dan yang lain-lain, disamping untuk memberikan bacaan yang membimbing mereka supaya jangan terlampau tertarik kepada aliran-aliran sosialisme atau nasionalisme yang lambat laun toh agak menentang pihak Belanda.

Di bagian lain STA juga menambahkan :

Ketika itu boleh dikatakan Balai Pustaka mewakili pikiran-pikiran golongan Belanda yang agak enlightened yang sedikit banyak mengandung etische politiek, seperti yang timbul di negeri Belanda pada masa perubahan dari abad 19 ke abad 20.

Memang, Balai Pustaka memiliki peran penting dalam menumbuhkembangkan kesusateraan Indonesia, namun tetap juga menimbulkan persoalan lain yang sangat berkaitan dengan politik kolonial di tanah jajahan (Indonesia). Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa Balai Pustaka melahirkan sastrawan dan kritikus Sastra Indonesia Modern yang berarti ikut mengembangkan kesusateraan Indonesia pada umumnya, tetapi tindakan para penjajah melakukan propaganda antinasional, mengklaim penerbit swasta sebagai ”saudagar kitab yang kurang suci hatinya” adalah suatu tindakan yang telah mencoreng hakikat ilmu sastra, terkhusus pilar sejarah sastra. Citra buruk yang dilabelkan oleh Belanda terhadap penerbit partikulir (swasta) diciptakan agar Balai Pustaka tetap dianggap sebagai penerbit yang berwibawa dan terhormat.
Bahwa buku terbitan Balai Pustaka hanya dikonsumsi oleh kalangan elitis dan penerbit partikulir di konsumsi oleh khalayak umum, maka disinilah muncul ketakutan pemerintah kolonial akan pengaruh bacaan. Karena membaca adalah sebuah jalan menuju dunia yang baru, dan karena membaca adalah salah satu sebab menjadikan seseorang menjadi cerdas, maka dari itu pemerintah kolonial Belanda sadar sepenuhnya jika masyarakat pribumi mengkonsumsi bacaan dari penerbit partikulir akan lebih mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan. Sangatlah wajar jika kemudian Dr. D.A. Rinkes, direktur Balai Pustaka ketika itu, melakukan hasutan dan menyebut bacaan di luar Balai Pustaka sebagai bacaan ”liar”. Berikut kutipan tulisan dari Dr.D.A.Rinkes:
Dalam masa 25 tahun yang baru lalu ini politik pengajaran pemerintah itu amat berubah. Dahulu yang diutamakan hanya akan mengadakan pegawai yang agak pandai untuk jabatan negeri, sekarang pengajaran rendah itu terutama untuk memajukan kecerdasan rakyat.

Tetapi pelajaran itu belum cukup. Tambahan lagi harus pula dicegah, janganlah hendaknya kepandaian membaca dan kepandaian berpikir yang dibangkitkan itu menjadi hal yang kurang baik...

Hasil pengajaran itu boleh juga mendatangkan bahaya kalau orang-orang yang telah tahu membaca itu mendapat kitab-kitab dari saudagar kitab yang kurang suci hatinya dan dari orang-orang yang hendak mengharu.

Oleh sebab itu, bersama-sama dengan pengajaran membaca itu serta untuk menyambung pengajaran itu, maka haruslah diadakan kitab-kitab bacaan yang memenuhi kegemaran orang kepada membaca dan memajukan pengetahuannya, seboleh-bolehnya menurut tertib dunia sekarang. Dalam usaha itu harus dijauhkan hal yang dapat merusak kekuasaan pemerintah dan ketentraman negeri .

Begitulah, Belanda melalui politik kolonialnya dengan berbagai cara berusaha mengunci ilmu pengetahuan, membonsai pribumi agar Belanda tetap dapat menginjak-injak kaum pribumi.
Padahal, jauh sebelum Balai Pustaka ada, beberapa penerbit peranakan Tionghoa sejak 1833 telah ada. Tercatat Kho Bie & Co., Tjoei Toei Yang, Firma Sie Dhian Ho. Penerbit dan percetakan inilah yang banyak menerbitkan buku terjemahan—termasuk buku sastra dan cerita silat—karya pengarang peranakan Tionghoa (Maman Mahayana, 2007:102). Dengan demikian, pengarang peranakan Tionghoa turut memperkembangkan khazanah sejarah kesusateraan Indonesia. Bahkan bisa juga disebut sebagai pembuka jalan menuju sastra Indonesia Modern. Akibat dari tindakan kolonialis Belanda ini, sastra peranakan Tionghoa tercecer dan tak tercatat dalam sejarah kesusasteraan Indonesia.
Penelitian yang dilakukan oleh Claudine Salmon adalah sangat luar biasa. Claudine Salmon tidak hanya menunjukkan bahwa sastra Indonesia telah ramai jauh sebelum Balai Pustaka lahir, tetapi juga membuktikan bahwa karya-karya terbitan diluar Balai Pustaka, tidak kalah dari karya-karya terbitan Balai Pustaka (Maman Mahayana, 2007:7).
Claudine Salmon menyebutkan bahwa keseluruhan karya penulis peranakan Tionghoa antara tahun 1870-1960 yang berhasil dikumpulkan mencapai 3005 judul. Meski jumlah itu tak memperhitungkan cetak ulang, secara kuantitas terbitan balai Pustaka tetap kalah jauh, seperti yang tercatat A. Teeuw berjumlah 400-an karya. Juga pada bulan Desember 1936—dalam catatan kaki Maman Mahayana—Pegawai redaksi Balai Pustaka bersama bagian Taman Pustaka diperintahkan berkeliling pulau Jawa untuk memeriksa penerbit-penerbit didaerah, sekalian dengan memeriksa buku terbitannya. Sampi tahun 1938, terkumpul sekitar 650 buku terbitan penerbit partikulir (swasta).
Sejak Komisi Untuk Bacaan Sekolah dan Bacaan Rakyat bediri (1908) sampai berganti nama Kantor Bacaan Rakyat ( Kantoor voor de Volkslectuur) atau Balai Pustaka pada 22 September 1917, hingga tahun 1928, menerbitkan tidak lebih dari 20-an bovel. Sementara penerbit-penerbit partikulir khususnya milik orang peranakan Tionghoa antara tahun 1903-1928 menerbitkan lebih seratusan novel asli karya lebih dari 15-an pengarang peranakan Tionghoa. Bahkan beberapa diantaranya mengalami cetak ulang !.
Beberapa sastrawan peranakan Tionghoa yang dicatat oleh Claudine Salmon adalah Probitas (nama pena) berjudul Toedjoe belas tahon dalem resia. Satoe tjerita bagoes aken djadi satoe katja bagi gadis-gadis Tionghoa jang dapet peladjaran Eropa ( terbit tahun 1916); Tjermin (nama samaran) berjudul Rasianja satoe gadis hartawan atawa perdjalanan Nona Tan, satoe Tionghoa di Weltervreden jang terpeladjar tinggi achirnja mengandoeng baji rasia, lantaran kemerdika’annja dalam taon 1917 ( terbit tahun 1918) (catatan kaki Maman Mahayana, 2007:52). Sastra Melayu Tionghoa ini tak sedikit yang mengangkat persoalan gender. Bahkan beberapa penerjemah dan pengarang wanita Tionghoa itu mencoba menerbitkan majalah wanita—sejauh pengamatan—pertama yang terbit di Indonesia. Majalah itu bernama Tiong Hwa Wie Sien Po (terbit di Bogor tahun 1906). Pengelolanya adalah Thio Tjio Nio, seorang penerjemah pertama wanita peranakan Tionghoa. Pemimpin redaksinya Lim Titie Nio dan pengarang wanita lain yang karyanya dimuat dalam majalah itu antara lain, Hanna Peng dan Hoedjin Tjan Tjin Bouw (Maman Mahayana, 2007:52).