Kamis, 15 April 2010

Wirid Penantian




Hujan rindu yang senantiasa turun ini, memenuhi gelas2 kegelisahan. Dan terus turun hingga sesuir jiwa ini lelah menacri tempayan2 untuk menadahnya. Lika-liku kebisuan terus membelenggu menunggu sebuah waktu pada pertemuan. Dimana hujan akan berhenti dan air-air kegelisahan tumpah pada muara pengobatan dan penyembuhan.

Pada sebuah hati, janji ini menempel bak benalu. Pada sebuah jiwa, rasa ini menikam bak duri beracun menyebar ke denyut2 nadi. Membuat sang emosi kian menjadi. Dan, pada sebuah waktu, penantian ini mematung. Begitu mengiris membuat luka2 kerinduan.


Samudra yang membelah gundukan2 tanah, melebar membuat jarak hingg Sang Purnama terlalu jauh tuk di tatap. Badai ombak dan karang tetap kokoh menjadi sebuah penghalang yang tak ada kata tamat.

Angin, jangan kau tertawa! Hiburlah aku yang terus menata bata-bata harapan. Yang terus merangkai besi jembatan untuk menghubungkan pada Sang Rembulan.

Dingin, jangan kau terus buatku menggigil! Diri ini tlah terlanjur hanyut. Racun ini telah begitu menyebar. Temani aku dalam kebisuan. Kawani aku dalam penantian panjang.

Biar kudekap belati2 ini. Biarkan darahku menetes mengaliri selokan2. Dan angin, bawalah anyir cinta ini ke seluruh sudut2 dunia. Hembuskanlah pada kelopak2 bunga di taman2 para pecinta. Teriakkan nyanyian setia, meski Sang Rembulan kian merangsek dan terus curiga. Aku, kan tetap mematung dengan setia.

Jumat, 09 April 2010

Alternatif Ideologi




Suatu kali saya dan seorang teman berkunjung ke rumah dosen saya. Namanya Fahmi Alhadar, seorang dosen yang penuh dengan kejutan-kejutan dan ide-ide gress. Saat itu, sembari menghadap meja yang sudah terhidang kopi, kami ngobrol sekedar sharing antara mahasiswa dan dosen. Saat asyik ngobrol tentang beberapa kegiatan kemahasiswaan, disela-sela beliau menimkati rokok StarMild-nya, tiba-tiba beliau bertanya yang mengagetkan kami berdua.

"Islam itu budaya atau bukan?"

Pertanyaan itu kelihatan simpel memang, tapi dalam. Pada kesempata itu, saya dan teman saya saling memandang. Kemudian hening agak lama.

"Bukan" Jawab saya. Saya pikir beliau kemudian akan menanyakan alasan saya mengapa saya menjawab bukan, tapi ternyata tidak. Selanjutnya beliau malah kembali mengajak kami ngobrol dan sepertinya tak begitu terlalu mementingkan pertanyaan yang telah Ia lontarkan.

Pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba menjelaskan alasan saya kenapa saya menjawab bukan. Budaya adalah hasil cipta, rasa dan karsa dari manusia yang di implementasikan dalam kehidupan. Hasil cipta, rasa dan karsa tersebut dapat berupa, Bahasa, Keyakinan, Pengetahuan, Kesenian, Teknologi, Sistem kemasyarakatan dan sistem mata pencaharian. Meski, dalam unsur-unsur tersebut diatas terdapat "Keyakinan" namun hemat saya keyakinan yang dimiliki oleh suatu masyarakat yang menciptakan budaya pada masyarakat tersebut hanyalah seperti sistem keyakinan spiritualisme saja. Dimana hal tersebut adalah keyakinan dari masyarakat yang memiliki hubungan vertikal dengan "sesuatu diluar sana yang lebih hebat dari mereka". Itu saja. Keyakinan seperti ini sangat banyak ditemui pada masyarakat-masyarakat misalnya animisme dan dinamisme.

Kenapa saya tidak memasukkan Islam termasuk pada sistem keyakinan yang merupakan bagian dari unsur kebudayaan? Karena Islam tidak hanya memberikan pemahaman hubungan vertikal antara masyarakat dengan "Sesuatu" di luar sana yang paling berkuasa atas mereka, namun juga Islam mengajarkan untuk menciptakan hubungan secara horizontal antara mereka dengan mereka yang lain juga antara mereka dengan alam sekitarnya secara selaras dan seimbang. Disinilah letak kesempurnaan Islam, dimana pada era masyarakat postmodern ini harus dijadikan alternatif Ideologi dalam menempuh hidup. Islam bukanlah ideologi alternatif namun islam adalah alternatif ideologi. Karena selama ini ideologi yang telah menggejala pada seluruh umat manusia selain Islam adalah cacat.

Terbukti, Komunisme runtuh dan hancur berkeping-keping. Kini Kapitalisme menggejala dan akhirnya menggali lubang kuburnya sendiri. Kapitalisme mengajarkan untuk melepaskan hasrat sebebasnya tanpa pagar dan dengan berpikir keuntungan secara materil belaka. Akhirnya manusia terus menerus merasa gelisah dan selalu saja tidak puas. Tak Pelak, hal ini kemudian menjadikan kekreatifitasan yang menyimpang seperti melakukan eksploitasi pada diri manusia dengan hanya berpikir keuntungan materi belaka. Contohnya adalah seks, dimana ke-tabuan dan ke-rahasiaannya adalah sesuatu yang special darinya sehingga manusia tidak hanya dapat melakukan regenerasi tetapi menikmati hidup. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Orang-orang berpikir bahwa sudah tak ada lagi yang bisa dijual dan di eksploitasi karena kaum bermodal telah menguasainya, maka sebagai pelarian maka tubuhlah yang kemudian dieksploitasi dan dijual.

Islam, bukan lah agama yang hanya mementingkan akhirat belaka. Islam adalah sebuah keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara lahiriah dan ukhrawiyah. Bahkan Dunia dalam pandangan Islam adalah ladang yang harus digarap untuk kemamkmuran manusia di dunia juga sebagai bekal di akhirat. Karena kesempurnaan inilah yang kemudia umat jika masuk ke dalam Islam secara kaffah dan hidup sesuai tuntunan Islam, maka akan tercipta sebuah budaya yang kondusif bagi manusia dan alam. bagi dunia dan akhirat.

Senin, 29 Maret 2010

Miskin Dan Pajak

Sejak dahulu kala, kita selalu diajarkan oleh orang tua bahwa berburuk sangka itu buruk dan tidak diperbolehkan. Sehingga, ketika para intelektual yang melakukan penelitian dan mendata berapa banyak orang miskin di Negeri subur ini kemudian dipresentasikan dihadapan orang dan pejabat-pejabat di hotel mewah dan berbintang melalui seminar-seminar lantas setelah itu ada break makan enak, tidak boleh dicurigai. Siapa tahu setelah seminar-seminar semacam itu terjadi semacam abra kadabra dan tiba-tiba semua orang miskin menjadi lebih baik atau minimal kenyanglah perut mereka. Atau setidak-tidaknya orang miskin bisa bermimpi makan enak. Soal setelah terjaga mereka lapar, itu urusan lain.





Kemiskinan memang selalu bertetangga dengan kelaparan. Ketika rakyat kelaparan berarti di situ terdapat kemiskinan. Tetapi anehnya di negeri kita ini, para abdi rakyatnya agak malu ketika menyebut daerahnya sebagai daerah orang kelaparan dan orang miskin. Demi menjaga image, kelaparan pun diganti dengan "rawan pangan" atau "kurang gizi". Toh mungkin karena alasan sebagai orang Timur lebih identik dengan dengan sopan santun, perilaku berbahasa tersebut tidak boleh diperdebatkan. Oleh sebab itu kata pelacur diganti dengan "wanita tuna susila" dan gelandangan di sebut "tuna wisma". Seakan istilah sansekerta yang dimunculkan itu harkat dan martabat pelacur dan gelandangan menjadi naik dan bergengsi.

Saat ini, yang sedang hangat diperbincangkan di negeri kita adalah mafia pajak. Orang dengan golongan III A, yang bergaji sekitar 10jt-an punya rumah berharga milyaran serta rekening yang bermilyaran pula. Tidak tahunya rupanya dicurigai hasil nilep uang yang disetor oleh rakyat juga termasuk rakyat miskin sebagai "upeti" terhadap negara karena negara ini telah "melindungi dan mensejahterakan rakyat". Namun upeti tersebut di tilep oleh pegawai yang bekerja pada insitusi 'perupetian'.

Sebutan yang disematkanpun gaul dan mentereng yakni "MAFIA PAJAK". Kalau memang intinya itu adalah "maling" kenapa tidak disebut "maling" begitu saja? Apakah ini karena orang Timur dengan jiwa sopan santunnya maka dihalus-haluskan?

Sudah, tidak usah dipikir tentang istilah. Yang penting saat ini kita patut prihatin. Si saat Dirjen 'perupetian" berkampanye besar=besaran agar masyarakat negeri ini sadar membayar "upeti", eee malah pegawainya maling uang hasil "upeti". Padahal uang hasil "upeti' itu digunakan untuk membangun negara seperti membuat pelabuhan, jalan, pasar juga untuk menggaji para PNS termasuk mereka POLISI dan TENTARA.

Lalu, setelah tragedi seperti ini apa yang akan kita perbuat? Boikot bayar pajak? Ya, itu normal karena kecewa. Namun perlu diingat bagaimana perkembangan bangsa kita ke depan. Sekitar 70% APBN atau APBD di ambilkan dari pajak untuk membangun fasilitas umum. Fasilitas untuk melayani masyarakat baik itu konglomerat maupun yang melarat. Setidak-tidaknya kita jangan berburuk sangka terhadap pegawai "penarik upeti" lainnya dan kita tetap membayar pajak demi kemajuan bangsa kita tercinta. Kita juga harus mendukung pihak yang berwajib agar bisa memenjarakan Gayus Tambunan sebagai penilep "upeti". Kita juga harus optimis pada yang berwajib dan jangan berburuk sangka juga jikalau nanti-kedepan- Gayus masuk bui lewat pintu dan keluar dengan cepat loncat lewat jendela belakang. Hal seperti itu di negeri kita adalah sesuatu yang bukan mustahil. Tapi jangan berburuk sangka lhoo.....

Minggu, 28 Maret 2010

Spiritualitas Postmodern Berserakan?

Pada era modern, agama dan nilai-nilai moral mengalami distorsi besar-besaran. Sikap dan tindak-tanduk manusia seperti hanya bertujuan terhadap materi belaka tanpa mengindahkan batas-batas. Sekulerisasi dalam agama menjadi virus fatal bagi agama sehingga urusan agama dan negara bahkan dipisahkan dan tidak boleh di gabung. Padahal agama juga mengajarkan hukum-hukum ketatanegaraan yang dapat dijadikan rujukan agar negara tersebut damai, adil dan sejahtera serta penuh dengan kearifan.

Agama dan moralitas mengalami alienasi metafisik yakni manusia begitu tak berdaya menghadapi realitas. Selanjutnya seperti gejala anti-agama--gerakan new age-- kelihatannya tidak memberikan solusi yang cerah dan tidak memberikan pemecahan yang berarti bagi umat manusia yang kian asing di lingkungan mereka sendiri.

Era Postmodern, terlepas dari kesimpangsiuran akan apakah postmodern adalah kritik atas modern atau apakah kelanjutan dari modern, tetap menghadirkan masalah-masalah sosial yang unik dan perlu untuk diwacanakan lebih-lebih yang berhubungan dengan spiritualitas yang dianggap sebagai "pagar" supaya manusia tidak kebablasan terjatuh ke lembah yang tak berujung.



Kondisi spiritualitas postmodern adalah kondisi dimana yang suci dicemari oleh yang kotor. Yang transenden di setubuhi oleh yang imanen dan yang ilahiah di perkkosa oleh yang duniawi. Percampuran inilah yang akhirnya menimbulkan kesimpangsiuran sehingga perbedaan diantara keduanya menjadi kabur.

Spiritualitas postmodern menampilkan kesucian dan kesakralan yang hanya bersifat permukaan dan artifisial. Kesucian itu kini digantikan oleh apa yang disebut Yasraf Amir Piliang dalam Posrealitas sebagai image kesucian yakni kesucian yang ditampilkan di dalam bentuk tanda-tanda (sign of holiness) yang bersifat imanen belaka. Telah terjadi semacam pendangkalan makna kesucian. Substansi dari kesucian seakan terkikis dan tercukur habis.

Era postmodern dimana masyarakat menjadi masyarakat konsumtif dan dikendalikan oleh hasrat ekonomi kapitalistik yang berlebihan, menjadikan masyarakat kian membabibuta untuk memproduksi apapun yang dapat menghasilkan keuntungan. Libido kapitalis merasuk hingga setiap sendi-sendi masyarakat bahkan pada tingkatan wilayah spiritualitas itu pun juga turut dirasuki.

Wacana spiritualitas postmodern adalah simbiosis dua kekuatan bertentangan menjadi satu kekuatan kontradiktif yaitu percampuran spirit keTuhanan dan spirit Konsumerisme. Spiritualitas dijadikan bagian dari gaya hidup. Gaya hidup dibentuk dalam sebuah ruang sosial yang didalamnya terjadi sintesis antara aktivitas belanja dan kesenangan. Di dalam kapitalisme, masyarakat dikonstruksi secara sosial ke dalam berbagai ruang gaya hidup yang menjadikan mereka sangat bergantung pada irama pergantian gaya, citra, status/prestise yang dikeluarkan didalamnya (yasraf amir pilliang). Budaya konsemerisme dan kesenangan serta kemewahan hadir pada tempat-tempat ibadah yang meskipun di desain dengan arsitektur yang megah dan mewah, tetapi tetap sepi pengunjung. Hanya sebatas image kemewahan dan kemegahan yang ditampilkan. Juga gaya penampilan/mode yang ditampilkan di media-media, turut mempengaruhi masyarakat. Pakaian yang secara substansi adalah pakaian syar'i yang sesuai secara hukum agama, di populerkan oleh seorang publik figur dengan budaya glamouris lalu ditiru oleh masyarakat yang telah larut dalam dunia simbol-simbol.

Mengajarkan orang-orang ke lembah spiritualitas di tengah masyarakat yang lelap dalam tamasya hasrat, menggandeng orang-orang ke jalan kesucian di tengah masyarakat yang memuja kedangkalan, dan menarik orang-orang dari jurang materi di tengah masyarakat yang mendewakan materi adalah tantangan besar dalam wacana spiritualitas postmodern di tengan masyarakat kontemporer.

Lalu apakah tidak terlalu berlebihan ketika banyak orang beranggapan bahwa di era postmodern kali ini spiritualitas akan kembali menjadi dermaga bagi orang-orang yang lupa daratan? Hemat penulis, terlalu dini ketika menyimpulkan bahwa agama dan spiritualitas akan kembali dihargai di era postmodern kali ini. Justru agama dan spiritualisme kian terinjak-injak.

Minggu, 21 Maret 2010

Menuju Kematian Realitas?




Konsep tentang apakah realitas sejati menjadi perdebatan panjang semenjak era Yunani sebelum masehi. Tombak-tombak argumen yang saling menghunjam antara para pemikir satu dengan pemikir lainnya menjadi sebuah coretan pelangi yang mewarnai dunia pengetahuan. Ketika dunia ada dengan segala wujudnya, terlepas dari pertentangan kaum ruhaniawan dan kaum ilmuwan, waktu telah menjejak melumuri wujud dunia dan segala isinya tersebut. Begitu pun sosok makhluk bernama manusia, yang secara sadar dan tidak sadar semenjak ia ada dalam kemelut dunia, ia juga berlumuran waktu. Ia adalah sosok yang paling paham dengan sejarah dirinya bahkan jua mencoba mengungkit sejarah Tuhan ketika gonjang-ganjing pencarian realitas terjadi. Segala yang telah ada dalam dunia tersebut terus berubah. Dari lenyap kemudian muncul pembaharu lalu lenyap dan seterusnya sehingga membentuk sebuah kontinuitas. Dan entah dari mana segala yang berubah dalam dunia tersebut di cap sebagai sesuatu yang "fana".

Menjadi sebuah ironi yang menarik, Manusia dengan sifatnya yang "fana" namun haus dan lapar akan kesejatian dan kekekalan. Pergolakan pikir yang terus berlanjut pada diri manusia akhirnya membentuk dua buah narasi raksasa yang saling bertentangan antara satu dengan yang lain. Tuhan yang hadir dalam sejarah entah sejak kapan, dan kaum yang menganggap realitas sejati adalah dari langit, seakan tidak memberikan kesempatan pada nalar untuk menggapainya. Nalar seakan tersumbat untuk dapat mampu mencapai realitas sejati tanpa kemampuan spiritualitas. Nalar akhirnya memberontak dan membombardir hingga akhirnya beranggapan bahwa sesuatu yang dari langit hanyalah omong kosong belaka. Realitas sejati yang dimiliki oleh nalar kemudian terbatas hanya pada materi. Perkelahian antara para penganut nalar yang tak kenal lelah dengan para penganut iman yang keras kepala terus berlanjut. Dan akan berakhir hingga dunia ini hancur, mungkin.

Apakah mitos yang tidak berpijak pada dunia manusia, atau dunia manusia belaka yang realitas sejati? Atau apakah yang realitas sejati adalah seperti apa yang dikatakan oleh Plato yakni ide?

Konsep yang terbangun adalah pasang-pasangan antara Lahir dengan Batin, Fisik dengan Metafisik, Fenomena dengan Noumena, Imanen dengan Transenden yang terjadi anggapan bahwa yang disebut belakangan adalah sebuah realitas lebih tinggi dibanding yang disebut pertama. Namun benarkah nalar tersumbat sehingga kemampuan untuk mencoba menembus apa yang disebut yang belakangan tak pernah tercapai oleh hasil-hasil yang telah dicapai oleh nalar seperi sains dan teknologi? Ketidakmampuan nalar seakan membuat ia terus merasa tidak puas dan terus mencari dengan rasa yang tidak pernah tenang dan gelisah.

Sains dan Teknologi yang telah dilahirkan oleh nalar kian membiak dan menguasai seluruh sendi-sendi kehidupan. Apalagi disertai oleh sifat keserakahan manusia yang berpikir akan keuntungan. Hal tersebut rupanya telah menciptakan manusia dalam kondisi "masyarakat elektronik" atau seperti yang disebut oleh Gertz sebagai "masyarakat Cybernetik" yang hidup dengan tombol-tombol. Mesin-mesin yang dilahirkan oleh nalar menguasai kehidupan manusia dari segala lini bahkan setingkat seks sekalipun. Teknologi mutakhir yang kini berada dihadapan kita adalah dunia cyberspace dimana didalamnya realitas adalah dunia virtual dimana data-data apapun terbentuk dalam bit-bit (bytes) yang terangkai dan terhubung antara satu dengan yang lain.

Realitas virtual ini hadir menyelusup dalam kehidupan manusia dan telah berada dalam genggaman. Seorang manusia bisa membuat dirinya sendiri dalam dunia virtualitas dalam bentuk asli atau palsu semisal ketika dalam dunia nyata ia laki-laki namun dalam dunia virtual ia bisa menjadi perempuan dan bahkan keduanya. Tubuh atau jasmani seakan adalah suatu hal yang marginal. Ruhani seakan tampil dalam dunia virtual sebagai suatu hal yang dangkal dan tidak memberikan efek secara langsung terhadap psikologis. Hal itu dikarenalkan bahwa realitas virtual sejatinya tidak menyatu dengan realitas yang real. Namun, semakin majunya zaman, yang virtual seakan adalah yang real. Segala kegiatan dunia nyata dikendalikan dari dalam dunia virtual, dari perekonomian, perkembangan teknologi, siraman ruhani dan juga gairah-gairah liar seksual. Tubuh menjadi sesuatu hal yang asing dan marginal. Kegiatan dalam kondisi nyata seakan menjadi nomor dua dan yang paling utama adalah dunia virtual.

Konsep dualistik diatas seperti jasmani/ruhani, imanen/transenden, fenomena/noumena, fisik/metafisik mendapatkan tantangan besar. Anggapan bahwa realitas adalah dua konsep tersebut kini berada di ujung senapan sains dan teknologi mutakhir. Realitas dari konsep dualistik tersebut kini telah mati.

Kamis, 18 Maret 2010

Meraba Dunia Post-Modern

Revolusi Industri: Sebuah Sketsa Pengantar




Awal mulai Revolusi Industri tidak jelas tetapi T.S. Ashton menulisnya kira-kira 1760-1830 Penemuan mesin uap oleh James Watt rupanya telah memberikan dampak besar bagi kehidupan umat manusia baik dibidang ekonomi, sosial maupun budaya. Budaya agraria relah berubah menjadi budaya industri dan terjadilah sebuah revolusi dimana urbanisasi penduduk pedesaan pindah ke perkotaan yang akhirnya menimbulkan berbagai dampak sosiologis. Masyarakat pedesaan yang terbiasa hidup menjadi petani kini menjual jasa mereka menjadi buruh di pabrik-pabrik yang menggunakan mesin sebagai alat produksinya. Selain itu, mesin pun juga merambah dunia agraria yang kian memudahkan para petani untuk mengeksploitasi lahan secepat dan seefisien mungkin dengan modal yang seminimal mungkin. Keberadaan mesin sungguh telah merubah wajah dunia.

Mesin tidak hanya diciptakan untuk membantu produksi umat manusia, namun hampir seluruh kegiatan yang berkaitan dengan produksi tersebut seperti pengangkutan dan distribusi juga digunakan mesin-mesin transportasi yang memudahkan dan membuat segalanya menjadi lebih efisien. Manusia, dengan kodratnya secara fisik sebagai makhluk yang lemah namun dengan kemampuan akal ia mencoba untuk “menolak” kodrat tersebut. Dengan dibantu oleh alat-alat yang telah diciptakan manusia, segala kegiatan dan aktivitas menjadi lebih mudah.

Selain mesin-mesin yang membantu kelemahan fisik manusia, kini juga telah merebak mesin-mesin informasi yang sangat dibutuhkan “software”nya manusia. Informasi yang disalurkan oleh media baik itu elektronik maupun cetak bahkan cyberspace begitu membantu manusia sehingga dunia ini layaknya seperti global village kata Alfin Tofller. Manusia dengan mudah dapat mengetahui kondisi manusia lain di belahan bumi yang jauh sekalipun dengan bantuan mesin/teknologi informasi seperti internet. Jarak dan batas geografis seperti telah pudar dengan adanya dunia baru yakni dunia virtual. Inilah dunia modern dimana segala yang cepat, instan dan efisien berjibaku dan saling berebut.

Lembah Baru



Sejauh perjalanan sains dan teknologi, manusia telah mampu menembus hingga ke Bulan dan bahkan menciptakan robot-robot untuk melakukan ekspedisi ke planet-planet lain. Juga beberapa hotel yang dibangun dibawah laut serta terowongan-terowongan bawah tanah bahkan terowongan bawah air seperti sungai sekalipun. Kemudahan demi kemudahan menghinggapi manusia akibat hasil “kecerdasan” manusia sendiri.

Sebuah daerah baru hadir di depan mata ketika segala hasil cipta sains dan teknologi begitu sangat (-sangat) memanjakan manusia. Dari sisi teknologi produksi, segala macam produk di telurkan demi mencukupi kebutuhan dan keinginan manusia secara masal. Dengan bantuan ideologi kapitalis, maka para kaum bermodal yang memiliki mesin-mesin produksi menawarkan produknya melalui media. Manusia disuguhi produk yang entah benar-benar butuh atau sekedar produk yang hanya menghapus dahaga hasrat keinginan. Manusia dipersilahkan memilih dengan hadirnya promo-promo produk yang menggiurkan dari manusia lain yang memiliki modal dan menginginkan lebih atas modal yang telah dikeluarkan tersebut. Berbagai produk dari berbagai mesin yang di hasilkan disesuaikan selera dan kesukaan masing-masing. Namun terkadang hal ini juga agak miris ketika kita melihat lebih dalam ketika manusia sejatinya tidak di sajikan kebutuhan yang menurut kesukaan masing-masing tetapi karena promo yang dilakukan pihak kaum bermodal melalui media, manusia “dipaksa” untuk “suka” ketika produk tersebut dipakai atau ditawarkan oleh seorang publik figur seperti para artis papan atas melalui media. Sehingga hal ini menjadikan manusia lain sebagai konsumen “dipaksa” untuk membeli. Kondisi ini mengakibatkan umat manusia di perhadapkan pada sebuah gejala over atau hyper baik itu hyper-production maupun hyper-consumption Gejala ini bisa dikatakan melampui (post-production;consumption).

Sisi selanjutnya adalah adalah teknologi transportasi yang kian cepat dan efisien. Produksi kendaraan yang Hyper-Production kini telah membuat manusia tak hanya memiliki satu kendaraan saja tetapi lebih dengan berbagai model dan type. Gejala ini membuat manusia lain yang tak memiliki kemampuan ekonomi memaksakan diri entah dengan bekerja lebih keras atau memilih jalan pintas. Kemanjaan yang ditawarkan oleh teknologi transportasi akhirnya disadari oleh manusia sendiri ketika penggunaannya melewati batas normal dimana manusia menjadi sedikit bergerak (misalnya jalan kaki) dan berdampak buruk bagi kesehatan. Selain itu berdampak pada gas buang yang dihasilkan terlalu “liar” untuk alam kita. Perubahan yang kian digencarkan adalah kembali manual dan menciptakan teknologi baru yang ramah lingkungan. Tentu hal ini juga memberikan dampak ekonomi bagi produk baru yang dihasilkan teknologi mutakhir tersebut.

Sisi yang ketiga adalah teknologi Informasi dimana kita mengenal Cyberspace. Global Village telah terwujud. Bahkan untuk melihat saturnus manusia tak harus membeli teropong bintang tetapi melalui media baik itu elektronik atau cetak. Lebih-lebih dengan cyberspace manusia kini bisa melihat melalui genggaman tangan yang membawa ponsel yang menyediakan fitur-fitur jaringan dunia maya. Informasi yang di unduh dan dicari semakian kompleks. Dari kebutuhan pokok hingga hidung Artis legendaris yang sebenarnya tak ada kaitannya dengan hidup manusia yang bersangkutan pun ditampilkan dalam informasi. Hal ini hanya semacam menampilkan sebuah hasrat-hasrat untuk mencoba eksis dalam dunia yang kian “sempit”. Bahkan dalam dunia cyberspace, manusia satu dengan manusia lain bisa berkomunikasi dan lebih dari itu dapat melakukan seks. Inilah dunia informasi dimana awalnya hanya bagaimana menginformasikan sesuatu yang perlu, kini segalanya di sediakan dengan bebas dan tanpa saringan. Siapapun dapat memberikan informasi dan dapat memiliki informasi tersebut. Sebuah dunia informasi (media) yang Melampui (post-Media).

Dapat disimpulkan kini bahwa manusia hidup pada sebuah kondisi dimana sadar ataupun tidak dalam keadaan melampui batas modern (Post-Modern). Tatkala mesin-mesin produksi dicipta untuk menciptakan produk yang sesuai dengan hasrat manusia sendiri secara over-production, kebutuhan transportasi yang tidak hanya karena butuh tetapi juga prestise dan gengsi serta laju informasi dari berbagai media baik legal atau illegal yang tak lagi mampu dibendung dan menyuguhkan apapun.



Lalu bagaimana dengan masalah moralitas dan spiritualitas dalam dunia Post-Modern? Apakah ia juga melampui menjadi lebih sempurna atau malah lenyap dan “runtuh” segala batasannya?

Sabtu, 10 Oktober 2009

Kiamat, Mungkinkah?





Kamu bekerja siang dan malam untuk tetap bertahan dalam liak-liuk kehidupan. Selain untuk tetap bertahan hidup, kamu tentunya menyisihkan hasil kerjamu untuk keperluan di masa datang ketika prediksimu tentang kekuatan badan menurun, maka simpanan tersebut bisa di gunakan. Hasil kerja kerasmu tidak hanya kamu gunakan untuk makan dan minum, tetapi juga untuk melengkapi kebutuhan sekunder dan tertier lainnya, seperti rumah, berbagai alat dan fasilitas didalamnya, motor, mobil dan apapun yang ingin kamu butuhkan. Semuanya ada karena berkat hasil kerja kerasmu. Segala hal yang telah kamu peroleh adalah milikmu dan kamu terserah mau apakan hasil tersebut. Memindahkannya, menjualnya, menggesernya juga menyusunnya, apapun yang kamu mau. Untuk mendapatkan semua itu, tentunya juga tidak instan. Kamu lalui berbagai aral dan rintangan bahkan sampai harus menangis air mata darah.

Pada suatu waktu, apakah rela segala yang telah kamu capai dengan hasil kerja kerasmu, dari banting tulang peras keringat serta menangis airmata darah itu harus kamu hancurkan dengan cara mengebomnya, merusaknya dan membinasakannya dalam sekejap?

JANGAN KAMU TERUSKAN MEMBACA TULISAN INI. LUANGKAN WAKTU SEPULUH DETIK SAJA UNTUK MENJAWABNYA.


DIAMLAH SEJENAK DAN RENUNGKAN LALU JAWABLAH. DENGAN HATI NURANIMU.


Menjadi suatu hal benar-benar tidak masuk akal jika anda menjawab ”Ya, saya mau menghancurkannya!”. Segala sesuatu yang anda inginkan dan cita-citakan dan semuanya telah terwujud, anda sendiri menghancurkannya dalam sekejap tak tersisa. Adalah suatu hal yang tidak mungkin.

Dalam perjalanan hidup kita, yang selalu bersanding di sisi kita dan tak bisa dilepaskan atau ditanggalkan adalah apa itu yang namanya agama/keyakinan. Agama bersifat doktrin yang tak terbantahkan. Terkadang, sesuatu hal yang sekiranya memaksa akal pikiran kita untuk berpikir mengenai doktrin tersebut yang hasil dari pikiran kita menyimpulkan bahwa hal itu tidak masuk akal, kita juga tetap berusaha menepisnya karena hal tersebut adalah sebuah doktrin agama yang kita yakini bahwa segala yang disampaikan itu datangnya dari Tuhan/Pencipta. Sangat ironis dan naifnya jika kita rupanya hingga sejauh ini adalah sebagai pengikut sebuah agama yang label keagamaan kita rupanya karena orang tua kita beragama ”itu” ya saya ikut ”itu”. Kasus tersebut dalam Islam dinamakan Taklid Buta. Kita mengikuti tanpa kita tahu bahwa itu adalah benar. Benar menurut kita, benar menurut mereka, benar menurut kalian dan tentunya benar menurut Tuhan.

Tulisan in tidak memberikan sebuah titik terang. Tulisan ini tidak memberikan sebuah jalan keluar. Tulisan ini tidak menyuruh anda untuk keluar dari keyakinan anda. Tapi, satu hal yang ingin saya sampaikan pada anda yakni berupa beberapa pertanyaan yang saya harap anda akan menjawabnya.

Pertanyaan tersebut adalah berkaitan dengan ilustrasi diatas. Apakah kemudian Tuhan yang besusah payah menciptakan dunia serta jagat mayapada ini beserta isinya dan kemudian merawatnya akan mau menghancurkannya tak tersisa? Lalu kenapa Tuhan harus menciptakan semua ini jikalau hanya untuk dimusnahkan? Bukankah itu suatu hal yang percuma?

Senin, 27 Juli 2009

Berkaca Pada Pengamen

Barang siapa lupa sejarah maka dia lupa ingatan


Sebuah kalimat bijak ini ku temukan di sela-sela trotoar melalui bibir yang bisa mengeluarkan suara merdu. Seorang anak jalanan yang hidup mengamen. Sebagian besar orang menganggap bahwa kumpulan pengamen adalah kumpulan orang-orang yang pemalas. Ketika mereka mulai mengalunkan lagu dan menengadahkan tangan maka tak jarang yang banyak tersenyum nyinyir. Namun, satu hal yang banyak orang tidak pernah mengerti dari mereka adalah sikap mereka tak semuanya dan selamanya seperti yang kita pikirkan.

Saat gemulai angin mencium bibir lampu merkuri yang berbaris di jalanan belahan tapak tiga Ternate, dua orang pengamen datang dan mengalunkan lagu. Aku dan tiga orang temanku terpana. Pertemuan itu berakhir dengan duduk-duduk dan berdiskusi. Satu hal yang tak pernah saya temukan dari para pengamen, mereka adalah kumpulan Sarekat Pengamen Ternate yang memikirkan bangsa. Tidak hanya mengamen untuk cari makan. Tujuan mereka tak hanya mondar-mandir kesana-kemari, melainkan mereka berharap penuh akan terciptanya dan kembali terwujudnya budaya lokal/kearifan lokal (local wisdom) yang kian tersingkir. Caranya adalah berusaha memunculkan kembali lagu daerah dan budaya daerah.

Diskusi itu semakin asyik, bahkan meski tengah malam lewat, kami tetap duduk-duduk dan menikmati suasana pantai yang semakin tertindas oleh daratan karena terus ditimbun untuk memperluas lahan mendirikan bangunan. Sarekat Pengamen Ternate (SPT) anak cabang dari SPI berdiri sejak tahun 2008 lalu. Satu hal lagi yang mengejutkan dari mereka bahwa dalam dua bulan terakhir mereka melakukan pengajaran secara non-formal kepada anak-anak jalanan. Lebih dari itu,mereka sering mendapat pukulan dari SatpolPP yang sering mengusir pedagang kaki lima. Mereka mencoba membantu para pedagang kaki lima yang kebanyakan telah berumur. “ itulah konsekwensinya” kata Apul, pria gagah yang memilih jalan hidupnya dalam komunitas marginal tersebut.
Rasa yang dimiliki para pengamen ini patut di beri penghargaan yang luar biasa dari orang-orang yang masih memiliki rasa simpati dan memiliki mimpi membangun bangsa. SPT sangat berharap bisa tetap berjuang membantu rakyat bahkan hingga titik darah penghabisan. Dan tanpa dibayar sepeserpun.! Dalam perjuangannya, SPT hingga sekarang sedang berusaha membangun/menyewa sebuah tempat untuk sanggar dan sekretariat. Beberapa hasil kreative dari teman-teman SPT seperti sablon kaos dan lain-lain tidak bisa berkembang karena kendala tersebut.

Satu sisi kehidupan manusia yang sangat luar biasa. Mereka bisa dinilai lebih mulia dari para pejabat yang hanya mampu dalam konsep. Mereka terlibat langsung tanpa meminta bayaran. Mereka merasakan langsung bagaimana sengsaranya tanpa meminta tunjangan dan mobil dinas. Bahkan sebaliknya mereka sering mendapat perlakuan yang tidak baik. Namun, mereka tetap optimis. Setidaknya bisa sedikit-demi sedikit memulihkan kembali budaya lokal yang kian terpendam oleh kecongkakan modernitas.

Minggu, 26 Juli 2009

Benarkah Sekolah Membuat Masa depan Cerah?

Membicarakan hal yang satu ini mungkin tidak akan habis-habisnya. Ya, dengan keadaan yang ada sekarang ini, ditandai dengan demo di sejumlah tempat yang pada dasarnya menuntut pendidikan sekolah murah. Lebih dari itu, apakah memang kemudian seribu janji pendidikan itu mampu diwujudkan dalam dunia nyata?

Pendidikan dalam bahasa Yunani berasal dari kata padegogik yaitu ilmu menuntun anak. Orang Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan di dunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yakni : membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan atau potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan - Red), mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak. Dari pengertian-pengertian dan analisis yang ada maka bisa disimpulkan bahwa pendidikan adalah upaya menuntun anak sejak lahir untuk mencapai kedewasaan jasmani dan rohani, dalam interaksi alam beserta lingkungannya.

Apakah pendidikan di Indonesia memperhatikan permasalahan detail seperti ini? Inilah salah satu kesalahan terbesar metode pendidikan yang dikembangkan di Indonesia. Pendidikan kita sangat tidak memperhatikan aspek afektif (merasa), sehingga kita hanya tercetak sebagai generasi-generasi yang pintar tapi tidak memiliki karakter-karakter yang dibutuhkan oleh bangsa ini. Sudah setengah abad lebih Indonesia merdeka, dan setiap tahunnya keluar ribuan hingga jutaan kaum intelektual. Tapi tak kuasa mengubah nasib bangsa ini. Maka pasti ada yang salah dengan sistem pendidikan yang kita kembangkan hingga saat ini.

Pendidikan adalah sebuah proses memanusiakan manusia. Jika aspek merasa dalam diri jiwa pendidik dan yang didik itu berkembang, maka akan pasti menjdai manusia seutuhnya. Tapi kenyataannya tidak demikian. Ratusan manusia yang menjadi pejabat adalah orang-orang yang terdidik. Tapi dari sekian ratus orang yang terdidik tersebut, berapa orang yang memiliki rasa?

Lebih dari itu, meskipun pendidikan sekolah di negeri ini memberikan plot anggaran terbesar negara, apakah mampu membuat generasi muda kita memiliki masa depan yang cerah? Segalanya dalam hidup manusia itu dipengaruhi paradigma berpikir seseorang. Jika paradigma itu tidak berubah maka hidupnya juga akan seperti itu-itu saja. Tiga abad lebih kita dijajah dan kita mewarisi mental budak. Bahkan hingga kini tetap saja kita mau menjadi budak. Meskipun pendidikan menghasilkan intelektual-intelektual, nyatanya tetap saja memiliki paradigma berpikir bahwa sekolah adalah sebuah jalan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik dan dapat menghasilkan pemasukan agar dapat hidup lebih sejahtera.

Hal ini seharusnya disikapi secara serius oleh para ahli pendidikan. JUga tak terkecuali orang-orang yang mendidik. Mental manusia Indonesia harus dirubah. Paradigma berpikir juga harus mutlak untuk dirubah. Jika tidak demikian, maka pendidikan sekolah tidak akan mampu menjamin masyarakat indonesia menjadi masyarakat yang cerdas dan bermental untuk menjadi "tuan".

Teks Berjalan

Perjalanan ngelantur kesana-kemari melalui situs yang satu ke situs yang lainnya emang terkadang bisa menemukan sebuah keberuntungan. Salah satunya ialah seperti tulisan di atas postingan saya ini. Tulisannya bergerak naik turun.

Teks seperti diatas postingan saya ini namanya adalah teks "marquee". Ini saya dapat dari sini.. Beliau adalah blogger dan untuk mengembangkan ilmunya tersebut, saya copas artikel beliau yang mengupas cara untuk membuat marquee atau teks berjalan/bergerak.

Caranya seperti ini:

Marquee ini bisa di buat dengan menggunakan tag <marquee>...<marquee>.

Atribut yang sering di gunakan adalah :

BGCOLOR="warna" --> Untuk mengatur warna background (latar belakang) teks

DIRECTION="left/right/up/down" --> Mengatur arah gerakan teks

BEHAVIOR="scroll/slide/alternate" --> Untuk mengatur perilaku gerakan

Scroll --> teks bergerak berputar
Slide--> teks bergerak sekali lalu berhenti
Alternate --> teks bergerak dari kiri kekanan lalu balik lagi ( bolak-balik bo)

TITLE='pesan" --> Pesan akan muncul saat mouse berada di atas teks

SCROLLMOUNT="angka" --> mengatur kecepatan gerakan dalam pixel, semakin besar angka semajin cepat gerakannya.

SCROLLDELAY="angka" --> Untuk mengatur waktu tunda gerakan dalam mili detik

LOOP="angka|-1|infinite" --> Mengatur jumlah loop

WIDTH="lebar" --> Mengatur lebar blok teks dalam pixel atau persen

Agar lebih jelas akan saya sertakan contohnya :

Contoh marquee dari gerakan :

<MARQUEE align="center" direction="right" height="200" scrollamount="2" width="30%">

marquee dari kanan ke kiri

</MARQUEE>

hasilnya :


marquee dari kanan ke kiri


ganti kata "left" dengan keinginan anda yaitu bisa : left, up, down .

Contoh marquee dari perilaku gerakan :

&alt;MARQUEE align="center" direction="left" height="200" scrollamount="3" width="70%" behavior="alternate">

marquee menurut perilaku

&alt;/MARQUEE>>

Hasilnya:



marquee menurut perilaku




untuk mmodel yang lainnya silahkan klik saja disini. disini. jangan lupa disini

Silahkan dicoba.....semoga sukses

Pendidikan=Jalan menuju perbudakan?

Tahun ajaran baru telah dimulai. Ribuan orang berbondong-bondong menuju instansi pendidikan baik formal maupun non-formal. Hal itu kiranya sudah biasa dikarenakan kebutuhan pendidikan di zaman kekinian adalah hal yang primer. Namun terdapat beberapa hal yang menarik yang perlu dikaji ulang tentang pendidikan dan tujuannya.

Pendidikan adalah sebuah proses. Proses tersebut tidaklah mudah dan cepat. Butuh waktu bertahun-tahun. Dari sekian ribu orang yang berbondong-bondong masuk dalam instansi pendidikan, ada berbagai macam tujuan. Bahkan juga ada yang sekedar iseng dan cari teman. Namun, sebenarnya ada hal yang lebih luar biasa dibalik tujuan pendidikan tersebut.

Pendidikan adalah sebuah proses memanusiakan manusia. Disebut demikian karena dalam proses menjalani pendidikan, terdapat berbagai hal yang wajib dipelajari. Yang paling utama tentunya mengembangkan ilmu pengetahuan untuk membuat peradaban manusia lebih cemerlang.

Ironisnya, dalam realita banyak orang yang memasuki instansi pendidikan lebih banyak yang memiliki tujuan untuk mengejar pekerjaan. Lebih ironis lagi, instansi pendidikan dimana para pengajarnya adalah orang terdidik, sangat jarang mau merubah paradigma berpikir siswa/mahasiswanya. Akibatnya, hal ini menjadikan pendidikan hanyalah sebuah proses ajang untuk menuju sebuah masa perbudakan baru dengan cara yang lebih baru pula.

Maka dari itu, paradigma berpikir siswa/mahasiswa harus bisa dirubah oleh orang-orang yang mengurusi instansi pendidikan terkait. Dengan hal tersebut, maka peradaban yang akan tercipta di masa akan datang akan menciptakan sebuah peradaban yang cemerlang. Memang, adalah hal yang mustahil jika semua orang bisa menjadi orang kaya atau bos. namun setidaknya tujuan pendidikan tetap terarah bukan untuk menjadi seorang budak melainkan menjadi tuan bagi dirinya sendiri.

Sabtu, 25 Juli 2009

Demokrasi atau Democrazy

Dunia Politik adalah lumpur-lumpur hitam (Soe Hok Gie)

Sebenarnya demokrasi itu apa sih...?



Ketika sebuah nurani berbicara dan kemudian menginginkan sesuatu hal yang diinginkannya, maka nurani mencoba mentransfer keinginannya ke otak kemudian berjalan dan terjadilah tindakan. Seringkali tindakan ini gagal ketika terdapat suatu halangan. Entah itu rasa takut, atau memang usaha yang putus di tengah jalan atau juga karena terpengaruhi oleh sesuatu hal sehingga tidak jadi mengerjakan keinginan tersebut.

Suatu perjalanan bangsa yang berharap menjadi bangsa yang luar biasa, itulah Indonesia. Demokrasi di pilih sebagai salah satu jalan agar Indonesia maju dengan segala keadilan yang diharapkan muncul dari demokrasi. Tapi apakah demokrasi itu seutuhnya memberi keadilan dan mampu membuat bangsa Indonesia ini maju?

Demokrasi.... Dari rakyat, Untuk rakyat dan Oleh rakyat.

Kesalahan demokrasi di Indonesia

Suatu bentuk keuasaan pemerintahan telah dipilih melalui jalur demokrasi. Rakyat memilih seorang calon legislatif/presiden dalam setiap pemilu. tapi harus diingat, calon legislatif/presiden tersebut bukan dipilih karena rakyat meminta. Tetapi mereka mengusulkan dirinya. Inilah kesalahan pertama tindakan demokrasi kita. Rakyat diberikan pilihan dari orang-orang yang tidak ditunjuk oleh rakyat (KPU). Setelah itu rakyat tidak dibenarkan untuk tidak memilih calon (Fatwa haram golput dari MUI). Apakah ini dari rakyat? Lalu apakah ini juga demokrasi?

Kesalahan kedua ialah, para calon legislatif/presiden memaksa rakyat untuk memilih mereka. Bagaimana tidak? Jika memang rakyat diberikan pilihan sesuai nuraninya, maka calon legislatif/presiden tidak usah sibuk membuat team sukses yang kenyataanyya team sukses juga hanya menginginkan keberuntungan jika calon mereka terpilih. Aksi hasut-menghasut hingga saling meruntuhkan citra lawan politik sepertinya hal biasa. Jelasnya, ini bukanlah demokrasi dan tidak memberikan nurani rakyat untuk memilih.

Kesalahan ketiga ialah berjuta-juta bahkan miliaran uang di alirkan kepada rakyat. Namun aliran uang yang dinamakan "bantuan" itu meminginkan balasan yakni memilih orang yang memberi bantuan. Bayangkan jika memang hanya sekedar sosialisasi dan mempersilahkan rakyat untuk memilih sesuai dengan nuraninya, uang tersebut malah bisa digunakan untuk bantuan yang tulus untuk mengatasi kemiskinan negeri yang kian menggila.

Pentas demokrasi negeri ini kotor. Culas. Busuk. Tidak berperikemanusiaan. malah demokrasi tidak akan pernah bisa membaut bangsa ini semakin penuh dengan kebijakan yang adil. Demokarasi negeri ini tak murni. Para kaum politikus selalu membodohi rakyat dan mengeksploitasi rakyat. mereka tidak murni ingin mensejahterakan rakyat. Demokrasi bangsa ini bukanlah demokrasi namun democrazy. Demo + Crazy, sebuah pertunjukan kegilaan yang benar-benar hilang sayarafnya. Tidak waras.

Rabu, 22 Juli 2009

Peristiwa 15 Januari 1974 (Malari)


Ekstrem Kanan Langganan Orde Baru
Peristiwa Malari di Senen Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) adalah peristiwa demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari 1974.

Peristiwa itu terjadi saat Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka sedang berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974). Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

Karena dijaga ketat, rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara. Tanggal 17 Januari 1974 pukul 08.00, PM Jepang itu berangkat dari Istana tidak dengan mobil, tetapi diantar Presiden Soeharto dengan helikopter dari Bina Graha ke pangkalan udara.

Kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), Jan P. Pronk dijadikan momentum untuk demonstrasi antimodal asing. Klimaksnya, kedatangan PM Jepang, Januari 1974, disertai demonstrasi dan kerusuhan.

Usai terjadi demonstrasi yang disertai kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan, Jakarta berasap. Soeharto memberhentikan Soemitro sebagai Panglima Kopkamtib, langsung mengambil alih jabatan itu. Jabatan Asisten Pribadi Presiden dibubarkan. Kepala Bakin Soetopo Juwono digantikan oleh Yoga Sugama.

Moertopo dan Peristiwa Malari
Dalam peristiwa Malari Jenderal Ali Moertopo menuduh eks PSII dan eks Masyumi atau ekstrem kanan adalah dalang peristiwa tersebut. Tetapi setelah para tokoh peristiwa Malari seperti Syahrir dan Hariman Siregar diadili, tidak bisa dibuktikan bahwa ada sedikitpun fakta dan ada seorangpun tokoh eks Masyumi yang terlibat di situ. Belakangan ini barulah ada pernyataan dari Jenderal Soemitro (almarhum) dalam buku Heru Cahyono, Pangkopkamtib Jendral Soemitro dan Peristiwa Malari bahwa ada kemungkinan kalau justru malahan Ali Moertopo sendiri dengan CSIS-nya yang mendalangi peristiwa Malari

Ekstrem Kanan Langganan Orde Baru

Inginnya ekonomi tumbuh, syaratnya stabilitas, caranya represif, alatnya tuduhan ekstrem kanan.

Orde Baru adalah orde yang bertekad melaksanakan pembangunan untuk nantinya menjadi ideologi pembangunan sebagaimana ditulis Adam Scwarz dalam A Nation in Waiting. Pada masa awal orde baru ada dua kubu dalam hal kebijakan strategi pembangunan. Kubu pertama adalah kubu yang menekankan pada pemerataan, dimotori oleh Hatta. Seperti kita ketahui Hatta dengan gagasan koperasinya menitikberatkan pembangunan pada aspek pemerataan.

Yang kedua adalah kubunya Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, beserta kawan-kawannya yang lulusan University of California Berkeley, sehingga sementara kalangan pengamat menjulukinya sebagai 'mafia Berkeley'.

Kubu kedua ini sangat mengagungkan pembangunan ekonomi melalui pertumbuhan dengan harapan nantinya akan terjadi trickle down effect (efek menetes/merembes ke bawah) alias otomatis terjadi pemerataan.

Maka gagasan dari kubu pertama tidak dipakai, kalaupun dipakai hanyalah sebagai 'pelengkap penderita' saja. Gagasan kedua dipakai karena para lulusan Berkeley itu dipercaya penuh oleh Presiden Soeharto untuk mengobati luka-luka masa Orde Lama. Apalagi menurut Assar Lindbeck pada bukunya, Kritik atas Ekonomi Kiri Baru terbitan LP3ES 1988, saat mereka kuliah di Berkeley yang trendy adalah kecenderungan pemikiran perkembangan ekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan, yang dikritik dengan keras oleh aliran 'Kiri Baru'.

Yang dipakai oleh pemerintah orde baru pada awalnya (dan bahkan sampai sekarang walaupun kadar penekanannya sudah agak sedikit berbeda) adalah gagasan dari kubu kedua. Alasannya, menurut Nurcholish Madjid dalam Politik Pembangunan, "Kalau kita hendak membagi-bagikan kue pembangunan harus kita buat dulu kuenya."

Pemerintah orde baru beralasan bahwa ekonomi negara sangat morat-marit. Inflasi mencapai 600%, utang negara sangat bertumpuk. Untuk itu maka perlu secepatnya diadakan stabilisasi ekonomi dengan tiang penyangga utamanya berupa stabilitas politik. Maka setiap potensi konflik diredam sedemikian rupa secara terus-menerus agar teredam kekuatan laten yang disebut pemerintah orde baru sebagai ekstrem kiri dan ekstrem kanan.

Terhadap ekstrem kiri, yang dilakukan orba berupa: pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya sekaligus peryataan sebagai organisasi terlaraang, dan pelarangan terhadap ajaran Marisme-Leninisme di seluruh wilayah RI.

Terhadap golongan Islam, tindakannya malah lebih banyak lagi. Secara jelas Yudi Latif dalam buku Mencari Islam (Mizan 1990) membeberkan langkah-langkah yang merugikan umat Islam yaitu:

1- Penolakan rehabilitasi Masyumi; 2-Dikeluarkannya peraturan Mendagri No 12/1969 dan PP No 6/1970 tentang monoloyalitas pegawai negeri yang mengakibatkan 'marginalisasi' pegawai negeri dari partai Islam; 3-Pemaksaan fusi dengan UU No 3/1973; 4-Terbitnya UU perkawinan 1974 yang merupakan de-islamisasi kaidah-kaidah kemasyrakatan karena banyak bertentangan dengan hukum-hukum perkawinan Islam; 5-Terbentuknya MUI sebagai perwakilan tunggal umat Islam tahun 1975 yang lebih sering merupakan alat legitimasi pemerintah; 6-Dilegitimasinya aliran kepercayaan dan P4 melalui Tap MPR No II/1978 yang merupakan usaha pemerintah untuk memperlemah potensi alternatif umat Islam.

Presiden Soeharto sejak awal menjalankan suatu model kepemimpinan sangat khas, yang merupakan hasil penjumlahan dari: (1) Cara berpikirnya yang sangat Jawa; (2) Kapabilitasnya yang tak terbantahkan sebagai seorang perwira militer yang cakap dan kaya pengalaman lapangan; (3) Kecanggihannya sebagai aktor politik dalam melakukan manajemen kekuasaan.; sebagaimana ditulis Eep Saefulloh Fatah dalam Masalah dan Prospek Demokrasi di Indonesia.

Otaknya Ali Moertopo
Otak pemberangusan gerakan politik Islam adalah Jenderal Ali Moertopo. Langkah-langkahnya yang cukup ketahuan dan transparan cukup banyak. Penjelasan berikut ini adalah sebagian dari padanya.

Pada tahun 1970 Partai Muslimin Indonesia (PARMUSI) di bawah pimpinan Djarnawi Hadikusumo telah 'digarap' atau dibajak oleh J Naro dengan 'diotaki' oleh Jendral Ali Moertopo.

Kemudian pada tahun 1971 PSII di bawah pimpinan M Ch Ibrahim 'digarap' oleh Drs Syarifudin Harahap, juga diotaki oleh Ali Moertopo. Berita pembajakan ini dimasukkan ke dalam berita TVRI, yaitu media massa resmi pemerintah Indonesia. (Bincang-bincang dengan Dahlan Ranuwihardjo).

Selanjutnya dalam peristiwa Malari Jenderal Ali Moertopo menuduh dan memfitnah umat Islam. Dikatakan bahwa eks PSI dan eks Masyumi atau ekstrem kanan adalah dalang peristiwa tersebut. Tetapi setelah para tokoh peristiwa Malari seperti Hariman Siregar diadili, tidak ada sedikitpun fakta dan tak ada seorangpun eks Masyumi terlibat di situ.

Belakangan ini barulah ada pengakuan dari Jenderal Soemitro (almarhum) dalam buku Heru Cahyono, Pangkopkamtib Jendral Soemitro dan Peristiwa Malari bahwa justru Ali Moertopo sendiri dengan CSIS-nya yang mendalangi peristiwa Malari.

Kemudian pada sidang pengadilan Ismail Pranoto di Jawa Timur pada tahun 1978, yang dituduh membentuk komando jihad, terbukti yang terungkap di pengadilan bahwa kegiatan Ismail Pranoto adalah atas perintah dan biaya Jenderal Ali Moertopo dalam rangka membentuk Front Pancasila Anti Komunis.

Dengan terungkapnya masalah ini tim pembela meminta kepada majelis Hakim untuk menampilkan Jenderal Ali Moertopo sebagai saksi. Tetapi majelis hakim menolaknya, sehingga Ismail Pranoto dijatuhi hukuman seumur hidup. Dengan peristiwa ini, jelas bahwa Jendral Ali Moertopo telah menjebak Ismail Pranoto (bekas DI/TII) untuk kemudian dihancurkan.

Aksi Ali Moertopo berikutnya adalah pada peristiwa Lapangan Banteng 1982. Ali yang ketika itu menjadi Mentri Penerangan dalam briefingnya di hadapan pimpinan teras Deppen dua hari setelah kejadian telah menuduh dan memfitnah umat Islam yang lagi-lagi disebut ekstrem kanan. Ali Moertopo menuduh Yusuf Hasyim dari PPP dan Ali Sadikin dari Petisi 50.

Tetapi setelah pengadilan memeriksa para terdakwa yang dituduh terlibat peristiwa Lapangan Banteng terbukti tidak ada satupun anggota PPP atau petisi 50 yang terlibat, bahkan menjadi saksipun tidak.

Lanjutannya Benny Moerdani
Pasca 1982 peran Ali Moertopo digantikan oleh Benny Moerdani. Pada tahun 1983-1985 Benny melakukan penggarapan terhadap ummat Islam dengan memuluskan perintah Soeharto yaitu bahwa semua ormas dan parpol harus berasaskan Pancasila.

Garapan pertama Benny adalah PII. Organisasi pelajar ini memiliki sejarah harum di masa lalu. Beberapa kadernya menghiasi kepemimpinan umat Islam tahun '90-an.

Gagasan asas tunggal Pancasila mengharuskan mereka menjadikan organisasi PII berjuang di bawah tanah. Sebab tahun 1985 PII merencanakan kongres yang isinya menolak Pancasila sebagai asas, tetapi kongres itu tidak mendapat izin.

Pada tanggal 17 Juli 1987, tanggal terakhir pendaftaran ulang ormas-ormas, PII tidak ikut didaftarkan. Maka sejak saat itu PII menjadi organisasi ilegal atau organisasi bawah tanah. PII juga dicap sebagai ekstrem kanan oleh pemerintah Orde Baru.

'Kakak'-nya PII yaitu HMI juga digarap oleh Benny Moerdani. Hanya bedanya HMI tidak menjadi organisasi ilegal melainkan pecah menjadi dua. HMI Dipo 16 yang menerima Pancasila sebagai asas dan HMI MPO (Majelis Penyelamat Organisasi) yang menolak Pancasila.

Penerimaan asas tunggal Pancasila oleh HMI berjalan alot. Pada mulanya, dalam persiapan Kongres 1983 sudah ada utusan-utusan pemerintah yang alumni HMI atau penyebutan oleh anggota HMI saat itu adalah 'antek-antek pemerintah' dan 'hilang ke HMI-annya' contohnya adalah Menpora Abdul Gafur.

Terjadilah konflik antara anggota HMI dan alumni HMI. Benih-benih konflik ini semakin bersemai dan terbuka dalam kongres berikut di Padang, tahun 1986. Menyadari potensi reaktif HMI yang radikal, pemerintah mulai menggarap anggota-anggotanya yang dianggap 'akomodatif'.

Melalui berbagai 'lobbying' yang dilakukan oleh Abdul Gafur dan Akbar Tanjung, mereka berhasil meyakinkan HMI untuk mencari 'jalan selamat'. Dalam sidang pleno PB HMI 1983/1985 tanggal 5 April 1985 di Ciloto Jawa Barat, HMI menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas.

Keputusan ini kemudian dikukuhkan dalam kongresnya di Padang tahun 1986. Pelaksanaan kongres ini sempat tertunda beberapa bulan karena adanya conditioning oleh pemerintah. Kemudian tokoh-tokoh akomodatif diberi lampu hijau oleh pemerintah dan tokoh-tokoh garis keras seperti Abdullah Hehamahua dan Eggy Sudjana diberi lampu merah.

Terpilihlah Saleh Khalid sebagai ketua umum PB HMI. Persoalan tidak berhenti sampai di situ karena keputusan ini ditolak oleh banyak sekali anggota HMI. Mereka berpendapat bahwa penetapan Pancasila sebagai asas tunggal diterima tidak melalui kongres. Mereka yang menolak ini membentuk 'HMI Tandingan' berupa HMI MPO dan mencoba 'mengadili' pengurus HMI 'bentukan' pemerintah. Sejak saat itulah muncul 'pengurus tandingan' pada banyak cabang HMI di Indonesia. Sejak saat itu pula HMI MPO disebut ekstrem kanan.

Tahun 1984 juga meletus peristiwa Tanjung Priok. Selain kondisi masyarakat yang memang sangat tidak puas terhadap pemerintah dan dipanasi-panasi oleh penceramah-penceramah yang keras, unsur rekayasa dan provokasi juga terlihat (walaupun masih misteri sampai saat ini).

Yang menarik adalah peristiwa sesudahnya yaitu kasus 'lembaran putih' yaitu surat protes yang dikeluarkan oleh Petisi 50 dan ditandingi oleh penceramah-penceramah yang keras. 'Lembaran putih' ini dijadikan alasan oleh Benny Moerdani untuk menangkap penceramah-penceramah keras itu seperti AM Fatwa, AQ Jailani, Tasrif Tuasikal, HM Sanusi, HR Dharsono, Oesmany El Hamidy, Mawardi Noor, Tonie Ardhie, dan lain-lain. Mereka juga dicap sebagai ekstrem kanan. Menurut Panji Masyarakat yang terbit pasca persidangan, persidangan ini mirip dagelan.

Beberapa bulan setelah peristiwa Tanjung Priok, tanggal 4 Maret 1985, timbul peristiwa peledakan dua kantor BCA yang mengakibatkan 200 orang tewas. Di malam Natal dua gereja diledakkan di Malang Jawa Timur. Sebulan kemudian tepat pada tahun baru 1986, 9 Stupa Candi Borobudur diledakkan.

Hal yang lucu adalah yang dituduh sebagai pelaku pemboman ini antara lain Hussein Al Habsyi, seorang tuna netra. Bagaimana mungkin seorang tuna netra yang berjalan atau berlari sebelum bom meledak saja susah (apalagi di Borobudur yang banyak sekali tangganya), dituduh meledakkan bom. Pelaku pemboman ini juga dicap ekstrem kanan.

Pada tahun 1987 di Aceh muncul barisan jubah putih dipimpin Teuku Bantaqiyah. Gerakan ini mencita-citakan 'tegaknya Islam sedunia'. Bulan Mei 1987, dengan berjalan kaki di desa Blang Beuradeh, Beutung Aseuh, Aceh Barat, mereka membunuhi orang Cina yang dijumpai di jalan serta memaksa tutup warung-warung yang buka di siang hari. Pada waktu itu adalah bulan puasa. (Tempo, 18 Februari 1989, hal 26). Mereka juga dicap Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) dan ekstrem kanan.

Kemudian terjadi peristiwa Lampung. Gerakan ini meletus ke permukaan pada bulan Februari 1989, dengan membunuh beberapa anggota ABRI. Sedangkan di pihak rakyat Lampung jatuh 27 korban termasuk Anwar alias Warsidi. Pemerintah menyebut pelaku peristiwa ini sebagai Gerakan Pengacau Keamanan dan ekstrem kanan.

Lantas muncul kasus Daerah Operasi Militer di Aceh dan berubah menjadi arena 'killing field'. Pemerintah menyebut Hasan Tiro dan kawan-kawannya sebagai GPK dan ekstrem kanan.

Mengapa Soeharto mempertahankan orang-orang seperti Ali Moertopo dan Benny Moerdani? Agar Soeharto dianggap pahlawan yang bisa mengerem tindakan Benny dan Ali. Terbukti kemudian umat Islam yang menjadi korban langsung atau tidak langsung sampai sekarang kebencian itu tidak ditujukan kepada Soeharto melainkan kepada Ali Moertopo dan Benny Moerdani, apalagi setelah Soeharto naik haji dan takbiran. (Agung Pribadi)

Naskah Asli disini

Sastra Melayu Klasik

Sejarah Sastra Melayu klasik berawal pada abad 16 masehi. Sejak itu gaya bahasa yang digunakan tidak banyak mengalami perubahan. Dokumen pertama yang dikenali menggunakan bahasa melayu adalah surat dari Raja Ternate,
Ket: Kedaton Ternate
Sultan Abu Hayat kepada seorang raja di Portugal yang bernama raja Joao III yang bertanggalkan tahun 1521 Masehi.
Ket: Raja Joao III Portugal

Saat ini tercatat terdapat tujuh bentuk dari sastra melayu. Gurindam, Hikayat, Karmina, Pantun, Syair, Seloka dan Talibun.

Gurindam

Gurindam adalah bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua larik (baris), mempunyai irama akhir yang sama dan merupakan satu kesatuan yang utuh. Larik atau baris pertama berisikan semacam soal atau perjanjian, sedangkan bait kedua adalah jawaban soal atau akibat dari perjanjian tersebut. Di kenal juga Gurindam dua belas yang di tulis oleh Raja Ali Haji dai Kepulauan Riau. Berikut ini contoh gurindam

Pabila banyak mencela orang
Itulah tanda dirinya kurang


Dengan ibu hendaknya hormat
Supaya badan dapat selamat

Untuk Gurindam dua belas, silahkan klik disini

Hikayat

Hikayat berasal dari bahasa Arab hikayah yang berarti kisah, cerita, atau dongeng. Pengertian mengenai hikayat ini bisa ditelusuri dalam tradisi sastra Arab dan Melayu lama. Dalam sastra Melayu lama, hikayat diartikan sebagai cerita rekaan berbentuk prosa panjang berbahasa Melayu, yang menceritakan tentang kehebatan dan kepahlawanan orang ternama dengan segala kesaktian, keanehan dan karomah yang mereka miliki.

Pantun

Pantun merupakan sejenis puisi yang terdiri atas 4 baris bersajak a-b-a-b atau a-a-a-a. Dua baris pertama merupakan sampiran, yang umumnya tentang alam (flora dan fauna); dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.
Contoh Pantun:
Wahai ananda cahaya mata
Orang berpantun jangan dikata
Didalamnya ada intan permata
Jikalau faham jadi mahkota


Karmina

Karmina sebuah bentuk pantun yang terdiri dari dua baris; baris pertama sampiran dan baris kedua isinya. Karmina disebut juga pantun kilat; mirip gurindam.

Contoh :
Gendang gendut tali kecapi
Kenyang perut senanglah hati
Pinggan tak retak, nasi tak dingin
Tuan tak hendak, kami tak ingin

Ciri-ciri :
1. 2 baris per bait
2. sajak a a
3. 4-5 kata atau 8-12 suku kata per baris/larik


Syair

Syair ialah jenis puisi melayu lama yang berangkap dan setiap rangkapnya mengandung 4 baris ayat yang kesemuanya membawa makna isi dan maksud. Keempat-empat baris itu pula berirama sama.
Syair sering membawa makna isi yang berhubung dengan kias ibarat. Sindiran , nasihat, pengajaran, agama dan juga berasakan sejarah atau dongeng.


Seloka

Seloka merupakan bentuk puisi Melayu Klasik, berisikan pepetah maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, terkadang dapat juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris.

contoh seloka 4 baris:

anak pak dolah makan lepat,

makan lepat sambil melompat,

nak hantar kad raya dah tak sempat,

pakai sms pun ok wat ?


contoh seloka lebih dari 4 baris:
Baik budi emak si Randang
Dagang lalu ditanakkan
Tiada berkayu rumah diruntuhkan
Anak pulang kelaparan
Anak dipangku diletakkan
Kera dihutan disusui


Talibun


Talibun ialah puisi berangkap tentang perincian sesuatu objek atau peristiwa, dan umumnya terdapat dalam genre lipur lara.

Sejenis puisi Melayu berbentuk bebas (ikatan puisi bebas)

Digunakan sebagai sisipan / selingan dalam cerita lipur lara


Dari:
Wikipedia Online
Melayu Online

Selasa, 21 Juli 2009

Tragedi Tanjung Priok, Jakarta, 1984


Tengkorak dan tulang korban peristiwa Tanjung Priok bernama Tukimin di Mengkok Sukapura, RSCM Jakarta 7 September 2000.[TEMPO/Awaluddin R; 31D/299/2000; 2000/11/18].



Senin, 10 September 1984. Seorang oknum ABRI beragama Katholik, Sersan Satu Hermanu, mendatangi mushala As-Sa'adah untuk menyita pamflet berbau 'SARA'. Namun tindakan Sersan Hermanu sangat menyinggung perasaan ummat Islam. Ia masuk ke dalam masjid tanpa melepas sepatu, menyiram dinding mushala dengan air got, bahkan menginjak Al-Qur'an. Warga marah dan motor motor Hermanu dibakar. Buntutnya, empat orang pengurus mushala diciduk Kodim. Upaya persuasif yang dilakukan ulama tidak mendapat respon dari aparat. Malah mereka memprovokasi dengan mempertontonkan salah seorang ikhwan yang ditahan itu, dengan tubuh penuh luka akibat siksaan.

Rabu. 12 September 1984. Mubaligh Abdul Qodir Djaelani membuat pernyataan yang menentang azas tunggal Pancasila. Malamnya, di Jalan Sindang, Tanjung Priok, diadakan tabligh. Ribuan orang berkumpul dengan semangat membara, disemangati khotbah dari Amir Biki, Syarifin Maloko, Yayan Hendrayana, dll. Tuntutan agar aparat melepas empat orang yang ditahan terdengar semakin keras. Amir Biki dalam khotbahnya berkata dengan suara bergetar, "Saya beritahu Kodim, bebaskan keempat orang yang ditahan itu sebelum jam sebelas malam. Jika tidak, saya takut akan terjadi banjir darah di Priok ini". Mubaligh lain, Ustdaz Yayan, bertanya pada jamaah, "Man anshori ilallah? Siapa sanggup menolong agama Allah ?" Dijawab oleh massa, "Nahnu Anshorullah ! Kami siap menolong agama Allah !" Sampai jam sebelas malam tidak ada jawaban dari Kodim, malah tank dan pasukan didatangkan ke kawasan Priok.

Akhirnya, lepas jam sebelas malam, massa mulai bergerak menuju markas Kodim. Ada yang membawa senjata tajam dan bahan bakar. Tetapi sebagian besar hanyalah berbekal asma' Allah dan Al-Qur'an. Amir Biki berpesan, "Yang merusak bukan teman kita !"
Di Jalan Yos Sudarso massa dan tentara berhadapan. Tidak terlihat polisi satupun, padahal seharusnya mereka yang terlebih dahulu menangani (dikemudian hari diketahui, para polisi ternyata dilarang keluar dari markasnya oleh tentara). Massa sama sekali tidak beringas. Sebagian besar malah hanya duduk di jalan dan bertakbir. Tiba-tiba terdengar aba-aba mundur dari komandan tentara.

Mereka mundur dua langkah, lalu ... astaghfirullah ! Tanpa peringatan terlebih dahulu, tentara mulai menembaki jamaah dan bergerak maju. Gelegar senapan terdengar bersahut-sahutan memecah kesunyian malam. Aliran listrik yang sudah dipadamkan sebelumnya membuat kilatan api dari moncong-moncong senjata terlihat mengerikan. Satu demi satu para syuhada tersungkur dengan darah membasahi bumi. Kemudian, datang konvoi truk militer dari arah pelabuhan, menerjang dan melindas massa yang tiarap di jalan. Dari atas truk, orang-orang berseragam hijau tanpa nurani gencar menembaki. Tentara bahkan masuk ke perkampungan dan menembak dengan membabi-buta. Tanjung Priok banjir darah.

Pemerintah dalam laporan resminya yang diwakili Panglima ABRI, Jenderal L. B. Moerdani, menyebutkan bahwa korban tewas 'hanya' 18 orang dan luka-luka 53 orang. Namun dari hasil investigasi tim pencari fakta, SONTAK (SOlidaritas Nasional untuk peristiwa TAnjung prioK), diperkirakan sekitar 400 orang tewas, belum terhirung yang luka-luka dan cacat. Sampai dua tahun setelah peristiwa pembantaian itu, suasana Tanjung Priok begitu mencekam. Siapapun yang menanyakan peristiwa 12 September, menanyakan anak atau kerabatnya yang hilang, akan berurusan dengan aparat.
Sebenarnya sejak beberapa bulan sebelum tragedi, suasana Tanjung Priok memang terasa panas. Tokoh-tokoh Islam menduga keras bahwa suasana panas itu memang sengaja direkayasa oleh oknum-oknum tertentu dipemerintahan yang memusuhi Islam. Terlebih lagi bila melihat yang menjadi Panglima ABRI saat itu, Jenderal Leonardus Benny Moerdani, adalah seorang Katholik yang sudah dikenal permusuhannya terhadap Islam. Suasana rekayasa ini terutama sekali dirasakan oleh ulama-ulama di luar tanjung Priok. Sebab, di kawasan lain kota Jakarta sensor bagi para mubaligh sangat ketat. Namun entah kenapa, di Tanjung Priok yang merupakan basis Islam itu para mubaligh dapat bebas berbicara bahkan mengkritik pemerintah, sampai menolak azas tunggal Pancasila. Adanya rekayasa dan provokasi untuk memancing ummat Islam dapat diketahui dari beberapa peristiwa lain sebelum itu, misalnya dari pembangunan bioskop Tugu yang banyak memutar film maksiat diseberang Masjid Al-Hidayah. Tokoh senior seperti M. Natsir dan Syafrudin Prawiranegara sebenarnya telah melarang ulama untuk datang ke Tanjung Priok agar tidak masuk ke dalam perangkap. Namun seruan ini rupanya tidak sampai kepada para mubaligh Priok. Dari cerita Syarifin Maloko, ketua SONTAK dan mubaligh yang terlibat langsung peristiwa 12 September, ia baru mendengar adanya larangan tersebut setelah berada di dalam penjara. Rekayasa dan pancingan ini tujuannya tak lain untuk memojokkan Islam dan ummatnya di Indonesia.

Diringkas dan diedit ulang dari Majalah Sabili dan Tabloid Hikmah

Sumber asli di sini

PESAN BUNG KARNO KEPADA PKI : YO SANAK YO KADANG ….

(Oleh :A. Umar Said)
Renungan dan catatan tentang BUNG KARNO (14)

(Catatan : tulisan ini bebas untuk diteruskan kepada siapa saja, dan juga bebas untuk digunakan selayaknya)



Judul ini menyangkut masalah besar!. Karena, isinya berkaitan erat dengan masalah nasional (dan juga internasional) yang telah mengakibatkan : digulingkannya Presiden Sukarno, dibunuhnya jutaan orang tidak bersalah, berkuasanya Orde Baru/GOLKAR selama lebih dari 32 tahun, kemunduran kebudayaan berfikir secara beradab di Indoneia, kerusakan moral besar-besaran di kalangan “atas”, dibunuhnya demokrasi, dimandulkannya Pancasila, dan keterpurukan negara dan bangsa seperti yang sama-sama kita saksikan dewasa ini.

Sejarah Bung Karno dan sejarah PKI akan tetap menjadi masalah yang penting untuk terus direnungkan, dikaji, dan dibicarakan. Sebab sejak terjadinya G30S dalam tahun 1965, banyak hal-hal yang masih gelap atau digelapkan, baik yang berkaitan dengan Bung Karno maupun PKI. Sekarang ini, makin banyak orang yang makin yakin bahwa selama lebih dari 32 tahun, Orde Baru/GOLKAR beserta pendukung-pendukung setianya, telah menyajikan dua masalah ini secara sefihak, secara tidak fair atau secara tidak jujur. Selama itu, baik Bung Karno maupun PKI telah dijadikan bulan-bulanan serangan oleh “sejarah versi resmi” Orde Baru. Dan selama puluhan tahun itu pula Orde Baru/GOLKAR melarang, mencegah, atau mematahkan, setiap usaha untuk menyajikan kedua persoalan ini secara berbeda dengan “versi resmi” itu.



Begitu hebatnya serangan Orde Baru/GOLKAR lewat indoktrinasi yang menyesatkan ini, yang dilakukan puluhan tahun secara intensif, permanen dan menyeluruh, sehingga citra Bung Karno dan PKI menjadilah serba negatif di benak banyak orang. Sekarang ini, setelah terbukti bahwa sistem politik Orde Baru adalah begitu buruk, dan setelah praktek-praktek para pendirinya dan para pendukung setianya ternyata jelas telah menimbulkan begitu banyak kerusakan terhadap negara dan bangsa, banyak orang mulai bertanya-tanya mengapa Bung Karno telah digulingkan dan mengapa pula PKI ditindas. Dan, bahkan orang mulai berfikir, bukankah karena Bung Karno digulingkan dan PKI ditindas itulah, maka, sebagai akibatanya, keadaan negara dan bangsa menjadi kacau, ruwet, dan penuh kebobrokan seperti sekarang ini?.

AMANAT PENDERITAAN RAKYAT JANGAN DIKHIANATI

Sejarah perjuangan politik Bung Karno menunjukkan dengan jelas bahwa ia sejak berusia duapuluhan tahun, sudah menampilkan diri sebagai seorang nasionalis Islam yang kiri, seorang pejuang anti-penjajahan yang revolusioner, yang menggunakan analisa marxis dalam memandang persoalan-persoalan masyarakat dan perjuangan bangsa. Tulisannya yang terkenal “Nasionalisme, Islam dan Marxisme” dalam majalah Suluh Indonesia Muda , ketika ia masih berumur 26 tahun, adalah bukti tentang kecemerlangan fikirannya. Dalam sejarah para perintis kemerdekaan kita, ia sangat menonjol sekali dalam hal ini.

Oleh karena itu, dapatlah kiranya dimengerti bahwa sebagai seorang pemuda revolusioner, ia menghargai semangat pembrontakan PKI dalam tahun 1926 melawan pemerintahan kolonial Belanda. Setelah menjadi kepala negara pun, dalam berbagai kesempatan ia juga telah menyebutkan betapa besar pengorbanan orang-orang yang dipenjarakan atau dibuang ke Tanah Merah (Boven Digul) karena perjuangan mereka itu, demi Amanat Penderitaan Rakyat. Antara lain ia pernah berpesan sebagai berikut :

“ Kita tidak bisa tidak menyelanggarakan masyarakat adil dan makmur yang saya namakan Amanat Penderitaan Rakyat, oleh karena penderitaan Rakyat berpuluh-puluh tahun semua adalah perjuangan dan korbanan untuk mencapai cita-cita masayarakat adil dan makmur itu! Amanat adalah suatu titipan daripada Rakyat. Amanat ini harus kita setiai. Amanat ini tidak boleh kita khianati, oleh siapapun juga yang menamakan dirinya patriot Indonesia, pejuang Indonesia, Pengabdi Negara Republik Indonesia.

“Amanat Penderitaan Rakyat ini sudah tidak boleh kita ganggu gugat lagi, bahwa ia adalah satu kewajiban yang utama bagi kita. Ia tertulis sebenarnya di atas batu-batu nisan kuburannya pejuang-pejuang kita yang telah mangkat. Ia tertulis di dinding-dinding tembok penjara-penjara di mana pemimpin-pemimpin kita meringkuk bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun. Ia tertulis di pohon kayu di Boven Digul atau Tanah Tinggi Boven Digul. Ia tertulis di batu-batu yang di bawahnya terkuburlah pahlawan-pahlawan Revolusi. Hal ini tidak boleh kita tawar-tawar lagi. Ini adalah kewajiban kita semua” (Dikutip dari buku J.K. Tumakaka “Peralihan kekuasaan Soekarno, Soeharto, Habibi”, halaman 58, “Amanat Presiden pada musyawarah dinas Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah dengan para Gubernur” ).

DUA KEKUATAN ANTI-KOLONIAL DAN ANTI-IMPERIALIS.

Dalam membaca sejarah PKI sejak dari lahirnya dalam tahun 1920 sampai 1965, nyatalah bahwa dalam menghadapi pemerintahan kolonial Belanda dan fasisme Jepang, PKI merupakan salah satu di antara kekuatan yang bersikap paling konsekwen. Kemudian, sesudah tahun 1949, PKI merupakan kekuatan aktif dalam menentang hasil-hasil Konferensi Meja Bundar (dengan Belanda), menentang RIS, melawan perjanjian Mutual Security Act (dengan AS). Sampai akhir 1959, PKI juga memberikan sumbangan yang penting, dalam perjuangan nasional melawan gerakan-gerakan separatis kontra-revolusioner yang dilakukan oleh Dewan Banteng, Dewan Garuda, Dewan Gajah, Dewan Manguni, dan PRRI-Permesta.

Karena perjuangan nasional melawan berbagai gerakan kontra-revolusioner inilah maka banyak anggota PKI beserta simpatisan-simpatisannya telah dibunuhi atau ditangkapi secara besar-besaran di Sumatera, di Kalimantan atau Sulawesi. Pembunuhan terhadap para tahanan PKI di kamp Situjuh (Sumatera Barat) oleh pasukan Dewan Banteng/PRRI adalah hanya sebagian kecil saja dari korban di kalangan PKI yang disebabkan oleh berbagai gerakan kontra-revolusi itu Supaya lebih jelas : ketika partai Masyumi dan PSI secara terang-terangan berdiri di belakang pembrontakan kontra-revolusioner PRRI-Permesta (yang disokong CIA), maka PKI telah tampil sebagai kekuatan yang ikut aktif mempertahankan keselamatan Republik Indonesia.

Sejak ditetapkannya Manifesto Politik sebagai Haluan Negara oleh MPRS (1959), PKI juga merupakan salah satu kekuatan pendukungnya yang utama, seperti halnya dalam perjuangan “Ganyang Malaisia”, dan perjuangan untuk merebut kembali Irian Barat. Singkatnya, sejarah perjuangan PKI adalah sejarah panjang perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme. Sejarah ini diselingi oleh satu peristiwa, yang dinamakan peristiwa Madiun (ada yang menamakan “pembrontakan” Madiun), yang asal-usulnya atau latar-belakang sebenarnya masih tetap dipersoalkan oleh berbagai fihak.

Seiring dengan perkembangan situasi yang demikian itulah, ketokohan Bung Karno sebagai kepala negara yang menggenggam garis politik revolusioner anti-imperialis makin menonjol juga. Politiknya untuk melikwidasi sisa-sisa kolonialisme Belanda berakhir dengan dibubarkannya Union dengan Kerajaan Belanda dalam tahun 1956. Konferensi Bandung (1955) telah menampilkannya sebagai tokoh terkemuka internasional anti-imperialisme. Politiknya tentang hubungan dengan RRT dan permusuhan dengan Taiwan telah membikin marah AS. Sejak lahirnya RRT, Bung Karno memperlihatkan simpatinya yang besar terhadapnya, dengan memperjuangkan keanggotaan RRT ke dalam PBB.

Dari berbagai dokumen dan analisa yang dibuat oleh ahli-ahli Barat sendiri, nyatalah sekarang bahwa Bung Karno telah dijadikan “sasaran inceran” Perang Dingin sejak permulaan tahun 50-an. Usaha untuk menggoyang pemerintahan Sukarno menjadi lebih jelas lagi dengan adanya dukungan kekuatan asing kepada gerakan-gerakan di daerah-daerah, sehingga SOB (Keadaan Negara dalam Bahaya) terpaksa diumumkan dalam tahun 1958. SOB inilah yang ternyata digunakan oleh militer (TNI-AD) untuk memperkuat kedudukan mereka dalam perpolitikan di Indonesia dan juga di bidang ekonomi (yang kemudian makin terus membesar, sampai sekarang!). Pertentangan antara sebagian golongan pimpinan militer dan Bung Karno mulailah makin terasa sejak itu.

Singkatnya, dari perjalanan sejarah semasa periode itu maka jelaslah bahwa garis politik revolusioner Bung Karno makin lama makin mendapat dukungan dari PKI yang sudah sejak lama juga merupakan kekuatan revolusioner penentang imperialisme (terutama AS). Gabungan dua kekuatan revolusioner ini berhadapan dengan kekuatan imperialis yang bersekutu dengan kekuatan kontra-revolusi dan anasir-anasir anti-Sukarno di dalamnegeri (termasuk sebagian golongan Islam dan juga sebagian pimpinan militer).

Perjuangan untuk merebut Irian Barat dan juga perlawanan terhadap projek politik Inggris “Malaysia” (waktu itu!), ditambah dengan perang di Indo-Cina dan kemudian dibentuknya poros Jakarta-Pnompenh- Hanoi-Peking-Pyongyang, membikin makin “berbahayanya” garis politik Sukarno bagi kepentingan strategi global AS di kawasan Asia dan Asia Tenggara. Sebaliknya, Bung Karno yang makin dimusuhi oleh dunia Barat (dengan AS sebagai kepalanya), makin membutuhkan adanya sokongan yang kuat dari pendukung- pendukung politiknya. Di antara pendukung Bung Karno itu terdapatlah PKI yang selama ini memang sudah selalu secara aktif menyokong garis politik anti-imperialisnya.

PKI ADALAH YO SANAK YO KADANG ….

Dari itu semua, dapatlah kiranya dimengerti bahwa Bung Karno, sebagai seorang pemimpin nasionalis revolusioner, melihat pada PKI sebagai sekutunya yang konsekwen dalam melawan imperialisme dan meneruskan revolusi 17 Agustus. Sesuai dengan gagasan-dasarnya sejak muda, maka ia menganggap perlunya disatukannya PKI dalam perjuangan bersama bangsa. Bahkan, lebih dari itu. Bung Karno melihat pada PKI sebagai mitra perjuangan. Untuk bisa sama-sama menghayati fikiran-fikirannya tentang hal ini, maka perlulah kita membaca pidatonya di depan resepsi Kongres ke-6 PKI (1959) yang berjudul “Yo sanak yo kadang, malah yen mati aku sing kélangan” (Ya saudara, ya keluarga, kalau mati saya ikut kehilangan). Bahkan, kalau kebetulan bisa mendengarkan kasetnya, maka kita akan dapat benar-benar “menikmati” (dan menghormati) gagasan-gagasan besarnya.

Dalam pidatonya itu (yang makan waktu hampir satu jam) antara lain dikatakannya :

“Ya, saudara-saudara, barangkali sayalah satu-satunya Presiden sesuatu negara di dunia ini, negara yang bukan dinamakan negara Sosialis, yang menghadiri satu Kongres Partai Komunis (tepuktangan lama). Nah, betapa tidak saudara-saudara! Betapa tidak hendak saya hadiri, kan saudara-saudara juga orang Indonesia, warganegara Indonesia, pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia, pejuang-pejuang menentang imperialisme yang membela kemerdekaan Indonesia ini (tepuktangan yang gemuruh).

“Saudara-saudara adalah utusan-utusan daripada sebagian Rakyat Indonesia, saudara-saudara adalah sama-sama orang-orang bangsa Indonesia. Malah saya akan berkata dalam bahasa Jawa, saudara-saudara itu "yo kadang, yo sanak, malah yen mati aku sing kelangan” (tepuktangan gemuruh lama) (halaman 376, Bintang Merah Nomor Istimewa Kongres Nasional ke-6 PKI, September-Oktober 1959).

Ungkapan Bung Karno seperti tersebut di atas, pastilah disimpan sebagai kenang-kenangan yang indah oleh banyak anggota-anggota PKI, simpatisan-simpatisannya, dan juga oleh mereka yang walaupun non-PKI tetapi menghayati keagungan gagasannya tentang persatuan revolusioner bangsa, yaitu persatuan Nasakom. Dan pastilah mereka juga senang (dan bangga) ketika membaca ucapan Bung Karno yang berikut:

“Dan tatkala saya mengadakan perjalanan beberapa hari yang lalu ke Aceh, diikuti oleh beberapa dutabesar …., dengan gembira saya melihat bahwa di mana-mana tempat, baik di daerah Aceh, maupun di daerah Riau, maupun di Kalimantan, PKI-lah salahsatu tenaga yang menyambut dengan baik (tepuktangan lama), menyambut dengan baik dan konsekwen kembali kita kepada Undang-undang Dasar 45, dan menyambut dengan baik persatuan nasional, menyelenggarakan persatuan nasional itu dengan sehebat-hebatnya (tepuktangan gemuruh). Oleh karena itu, saudara-saudara, pantas saya mengucapkan penghargaan saya kepada Partai Komunis Indonesia di dalam hal ini;”

BUNG KARNO DAN PKI : API REVOLUSI

Pidato Bung Karno yang dimuat dalam Bintang Merah tahun 1959 tersebut mengungkap banyak hal yang menarik, umpamanya : penjelasannya tentang diri-pribadinya sendiri yang merupakan “campuran” antara 3 sifat, ja nasionalis, ya sosialis, ya muslimin. Juga tentang filosofi materialisme, tentang materialisme historis, tentang sosialisme, tentang masyarakat adil dan makmur, tentang faktor keagamaan dalam masyarakat Indonesia. Yang amat menarik adalah satu bagian di mana ia ungkapkan persamaan antara dirinya dengan PKI sebagai api revolusi, yang berbunyi :

“Saya berkata di hadapan khalayak ramai di Kutaraja itu, saya merasa diri saya sebagai sepotong kayu dalam satu gundukan kayu api-unggun, sepotong kayu daripada ratusan atau ribuan potong kayu di dalam api-unggun besar yang sedang menyala-nyala. Saya menyumbang sedikit kepada nyalanya api-unggun itu, tetapi sebaliknyapun saya dimakan oleh api-unggun itu, saudara-saudara. Menyumbang kepada api-unggun tetapi ,juga dimakan oleh api-unggun. Dimakan api-unggun. Tidakkah sebenarnya kita semua berasa demikian, saudara-saudara?!

"Saudara-saudara, terutama sekali hai saudara-saudara dari PKI, saudara-saudara masing-masing menyumbang kepada api-revolusi, tetapi saudarapun dimakan oleh api revolusi itu. Dimakan dalam arti bahwa saudara ikut serta dalam dinamikanya revolusi ini habis-habisan, bahwa saudara merasa diri saudara mendapat impetus, mendapat kekuatan tenaga, mendapat penggerak jiwa daripada revolusi yang apinya sekarang sedang berkobar-kobar dan menyala-nyala itu;” (halaman 378).

Saudara-saudara pembaca. Ketika mendengarkan suara Bung Karno dari kaset itu, maka penulis merenungkannya dengan rasa haru yang campur aduk. Alangkah bagusnya perumpamaan yang diambilnya, dan alangkah dalamnya makna pesan yang dilontarkannya. Dan ketika mengingat tindakan-tindakan para pendiri Orde Baru/GOLKAR terhadap Bung Karno dan juga kepada PKI di masa yang lalu, maka muncullah kutukan dan hujatan dalam hati. Terlalu, api revolusi yang begitu indah itu telah dipadamkan!!! Lagi pula, oleh orang-orang yang hanya patut dicampakkan dalam keranjang-sampah sejarah bangsa! Apa yang mereka lakukan selama 32 tahun sudah membuktikannya. Dan, kerusakan-kerusakan di segala bidang yang kita saksikan sekarang ini, adalah saksinya juga.

Bagian lain pidatonya yang bagus dan juga penting adalah yang menyoroti betapa besarnya peran kaum buruh dan tani dalam perjuangan untuk menciptakan masyarakat adil dan makmur. Mari sama-sama kita dengar suara Bung Karno tentang soal ini:

“Kita harus malahan membuat kaum buruh klasse bewust, sadar akan klasnya (tepuktangan). Oleh karena, justru di dalam penyelenggaraan masyarakat adil dan makmur kaum buruh dan kaum tanilah yang harus menjadi motor (tepuktangan). Kaum buruh dan kaum tani soko guru, saudara-saudara, kaum buruh dan kaum tani dalam masyarakat adil dan makmur, kaum buruh dan kaum tani yang jumlahnya 90% daripada Rakyat Indonesia. Mereka ini sokoguru daripada masyarakat adil dan makmur. Mereka ini sokoguru masyarakat sosialis à la Indonesia.” (halaman 383).

* *

Dari berbagai pernyataan Bung Karno, seperti yang disajikan di atas saja, kita sudah bisa mendapat gambaran, bahwa Bung Karno sudah berjuang puluhan tahun demi kepentingan rakyat, demi kemerdekaan nasional, dan demi persatuan bangsa. Ia juga telah dengan gigih berjuang melawan imperialisme dan neo-kolonialisme, bukan hanya untuk membela kepentingan rakyat Indonesia saja, tetapi juga untuk kepentingan rakyat-rakyat Asia-Afrika dan rakyat negeri-negeri lainnya. Dan untuk itulah maka ia mempunyai sikap yang bersahabat dengan PKI, yang mendukung politiknya yang revolusioner dan anti-imperialis.

Karena itulah, maka sejarah akan membuktikan lebih jelas lagi kepada rakyat Indonesia bahwa yang melakukan pengkhianatan terhadap Republik Indonesia bukanlah Bung Karno dan PKI, melainkan kontra-revolusi yang bernama ORDE BARU/GOLKAR, yang disokong oleh kekuatan asing beserta sekutu-sekutunya di dalam negeri. Sekarang saja sudah terbukti bahwa kontra-revolusi besar-besaran yang dikepalai Suharto dkk inilah yang telah merusak Republik kita selama lebih dari 32 tahun, dan yang juga telah mengkhianati Amanat Penderitaan Rakyat, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Sejarah bangsa kita akan mencatat terus, bahwa kehancuran kekuatan revolusioner yang mendukung Bung Karno dan PKI, bukanlah suatu “kemenangan” bangsa dan rakyat Indonesia, tetapi justru sebaliknya. Dihancurkannya kepemimpinan Bung Karno dan dilumpuhkannya kekuatan pendukung utamanya (PKI) adalah suatu kerugian besar sekali bagi kehidupan bangsa secara keseluruhan. Kemenangan kekuatan bathil ini, terbukti hanya mendatangkan keburukan secara besar-besaran, dan, dalam jangka waktu yang amat panjang pula.

Sejarah akhir-akhir ini menunjukkan bahwa dengan disingkirkannya Bung Karno dan dilumpuhkannya PKI, maka perjuangan rakyat Indonesia menuju masyarakat adil dan makmur merasakan satu “kehilangan” yang amat besar. Oleh karena itu pantaslah kiranya kalau, selama ini, banyak orang mengatakan kepada “roh” Bung Karno, yang masih selalu hidup di kalbu mereka, “Bung Karno, yo sanak yo kadang, yen mati aku sing kélangan”.

Paris, 16 Mei 2001 (sumber asli di sini)

Sabtu, 18 Juli 2009

Selamat Datang Di Kepulauan Rempah-Rempah

Oleh : Van Prey



Rasanya begitu kagum ketika saat pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Ternate, salah satu Pulau yang menjadi pusat rempah-rempah sekaligus menjadi central pemerintahan Provinsi Maluku Utara. Provinsi yang pernah mencetak rekor tentang Pilgub terlama di Indonesia, dan bahkan juga di dunia ini, memiliki bergudang-gudang landscape yang tak membosankan mata untuk menatap dan memandang jauh hingga garis cakrawala. Gunung Gamalama, satu-satunya gunung di pulau Ternate dan masih aktif ini memiliki pesona tersendiri. Telah banyak orang yang melakukan pendakian untuk mencari sensasi kesegaran dan kepuasan batin akan indahnya alam Pulau Seribu Benteng ini dari puncaknya.

Pulau yang pernah menjadi tujuan para negeri kolonial pada abad 16 ini, sebagian besar masyarakatnya beragama Islam. Bahkan, banyak penduduk setempat yang mengklaim bahwa Islam hadir pertama kali di Bumi Pertiwi adalah di Ternate. Sultan Mudafar Sjah adalah Sultan yang memimpin kerajaan Ternate sekarang ini. Usaha Sultan Mudafar Sjah untuk mengembalikan citra sebagai tanah rempah-rempah dengan berbagai object wisata patut diacungi jempol. Salah satu usaha tersebut adalah acara Lagu Gam yang mana acara tersebut adalah acara untuk memperingati hari ulang tahun Sultan dan dilakukan Pesta Rakyat selama kurang lebih dua minggu. Dengan menampilkan berbagai acara tradisional dikolaborasikan dengan kesenian modern, menjadikan acara Legu Gam memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Biasanya acara ini dilaksanakan sekitar bulan April.

Ferdinand Magelhaens, yang melakukan pelayaran dari Lisabon, Spanyol dengan misi 3 G: Glory, Gospel, Gold melewati Panama kemudian samudera Atlantik dan menuju Filipina. Sampai disini beliau meninggal, dan dilanjutkan oleh Sebastian Del Cano hingga mendarat di Pulau Tidore. Pulau yang bersebelahan dengan Pulau Ternate. Diantara Pulau Ternate dan Tidore, terdapat sebuah pulau kecil yang bernama Pulau Maitara. Pulau Maitara juga menyuguhkan berbagai keindahan alam yang eksotik. Dengan pantai pasir putih, puncak gunungnya yang bisa ditempuh hanya beberapa jam, juga keanehan tentang kebanyakan sumur yang airnya berasa asin. Salah satu kesulitan bagi masyarakat Maitara adalah air bersih yang hingga kini masih menjadi kendala.
Kedatangan Spanyol kemudian diikuti oleh Portugis yang mendarat di Ternate. Di sini, Potugis membuat beberapa benteng. Benteng Nostra Senhora del Rosario atau Benteng Kastella atau Benteng Gamlamo yang konon dikabarkan benteng terbesar di Asia Tenggara. Benteng yang dibangun pada tahun 1522 oleh Gubernur Jenderal Antonio de Brito yang kemudian dilanjutkan oleh Garcia Hendrigues. Pada tahun 1530 diteruskan oleh Gastro Pereira dan diselesaikan oleh Gubernur Jenderal ke-8, Jorge de Castro tahun 1540. Benteng yang dibangun kurang lebih 18 tahun ini, kini nasibnya memprihatinkan. Tidak terawat dan 90% bagiannya telah hilang. Dan di benteng ini pula seorang Sultan Ternate, Yaitu Sultan Khairun dibunuh oleh salah satu prajurit Portugis yang bernama Antonio Pimental atas suruhan dari Gubernur Jenderal Lopez de Mosquito. Sultan Khairun diundang untuk menghadiri jamuan makan malam sambil berunding. Namun rupanya ia malah dibunuh secara keji dengan cara ditikam dari belakang. Kejadian itu berlangsung pada tanggal 28 Februari 1570. Hingga kinipun sejarah masih simpang siur tentang jenazah beliau. Banyak penduduk setempat mengatakan bahwa Sultan Babullah, anaknya Sultan Khairun menjemput jenazah ayahnya sambil menari soya-soya (tari perang) dengan pasukan. Sumber yang lain mengatakn bahwa jenazah Sultan Khairun di cincang dan dibuang ke laut. Dalam Benteng ini, berdiri sekolah Teologia Pertama di Asia Tenggara.

Akibat dari pembunuhan atas Sultan Khairun, Sultan Babullah terus menerus melakukan serangan terhadap Portugis dan akhirnya Portugis berhasil di pukul mundur meninggalkan Ternate untuk selama-lamanya.

Tahun 1606, Spanyol menduduki Ternate sampai tahun 1663. pada tanggal 1 April 1606, Spanyol mengambil 153 meriam yang terbuat dari tembaga, peninggalan Portugis. Setelah portugis Pergi, Belanda tiba dan menguasai Ternate.
Benteng ini terhitung luar biasa karena ketebalan tembok dari 40 cm sampai dengan 270 cm. Tembok yang memiliki tebal 40 cm digunakan sebagai penyekat ruangan dan 175 cm sampai dengan 275 cm digunakan sebagai dinding luar.